Bitcoin Kesulitan Bertahan di US$77.000 di Tengah Sentimen Pasar

Bitcoin

ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin atau BTC berada di bawah tekanan yang cukup berat, terkunci di kisaran US$76.000 hingga US$77.000 setelah sebelumnya sempat berada di level yang lebih tinggi pada Selasa (3/11/2026). Data dari Binance menunjukkan BTC turun di bawah US$77.000 dan diperdagangkan pada sekitar US$76.894 pada pukul 02.48 waktu setempat, turun sekitar 1,52% dibandingkan hari sebelumnya.

Laporan KuCoin mencatat BTC berada di US$76.808,90 dengan penurunan 1,97% dalam 24 jam, sementara Ethereum (ETH) juga melemah ke arah US$2.250. Sumber lain mencatat angka yang sedikit bervariasi: CoinMarketCap mencatat BTC di US$77.153,83 (turun 1,46%) pada pukul 10.00 KST.

Tekanan terbesar yang membebani Bitcoin hari ini adalah dampak lanjutan dari peretasan besar yang menimpa Binance pada 30 Oktober 2026. Meskipun Binance telah mengumumkan bahwa pihaknya mengisi kembali aset yang hilang menggunakan dana sendiri, kepercayaan pasar belum sepenuhnya pulih.

Data dari DefiLlama menunjukkan bahwa setelah insiden tersebut, arus keluar bersih 24 jam dari Binance sempat mencapai puncak sekitar US$7 miliar, meskipun kemudian turun menjadi sekitar US$3,5 miliar setelah penarikan kembali dibuka. Rasio deposit-to-withdrawal memang pulih ke 78%, dan Binance telah mengisi kembali 95% aset yang terdampak serta menyediakan bukti cadangan zero-knowledge untuk 10 aset utama.

Baca Juga: Binance Hadapi Dugaan Peretasan Terbesar di Industri Kripto, Sekitar US$3 Miliar Dibekukan

Namun, kedalaman order book BTC di Binance sempat turun sekitar 30% setelah serangan, mencerminkan kehati-hatian yang masih berlanjut di kalangan market maker dan peserta pasar lainnya. Insiden ini juga diperparah oleh peretasan bursa Brasil, Mercado Bitcoin, yang kehilangan lebih dari US$40 juta dan suspensi sementara deposito serta penarikan—menambah kekhawatiran terhadap keamanan aset di bursa .

Selain faktor keamanan, arus keluar dari ETF Bitcoin spot AS turut memperberat tekanan. Pada 30 Oktober, ETF Bitcoin spot mencatat net outflow sebesar US$643 juta—angka yang menunjukkan bahwa permintaan institusional sedang tertekan . Dalam konteks ekonomi aset digital, arus keluar ETF adalah sinyal penting: ketika investor institusional menarik dana, likuiditas pasar menurun dan tekanan jual meningkat, terutama karena ETF selama ini menjadi salah satu kanal utama permintaan Bitcoin. Kombinasi antara krisis kepercayaan akibat peretasan dan melemahnya arus institusional menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi harga Bitcoin untuk rebound.

Sentimen pasar juga terlihat memburuk. Indeks Fear & Greed Kripto turun tajam ke level 26, dari sebelumnya 37—masuk dalam kategori “fear” (ketakutan). Penurunan indeks ini mencerminkan bahwa pelaku pasar sedang menghindari risiko, bukan mengejarnya. Salah satu pemicu kehati-hatian adalah pemilihan legislatif AS yang semakin dekat.

Data dari KuCoin menunjukkan bahwa volatilitas implisit untuk opsi BTC yang jatuh tempo pada 4 November meningkat menjadi sekitar 43,5%, dibandingkan sekitar 36% untuk jatuh tempo yang lebih jauh—sebuah indikasi bahwa trader sedang membeli perlindungan terhadap kemungkinan volatilitas yang dipicu oleh hasil pemilu. Ketidakpastian politik di AS sering kali mendorong investor menjauh dari aset berisiko seperti Bitcoin, setidaknya sampai hasilnya jelas.

Faktor makroekonomi juga tidak membantu. Saham teknologi AS mengalami pelemahan, dengan Nasdaq turun 1,1% dan S&P 500 turun 0,5% dalam semalam, dipicu oleh kekhawatiran atas investasi AI yang membengkak. Bitcoin, yang semakin berkorelasi dengan aset berisiko lainnya, ikut terseret dalam arus risk-off ini. Data likuidasi menunjukkan bahwa total likuidasi kripto dalam 24 jam mencapai US$389,67 juta, dengan likuidasi BTC sekitar US$97,6 juta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *