Kunjungan Wisatawan Asing di Bali Melonjak, Belanja dan Lama Tinggal Meningkat

Wisatawan lokal dan asing memadati desa wisata di Bali.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Indonesia telah menerima 12,01 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang Januari hingga September 2026, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Rata-rata belanja per kunjungan yang juga meningkat. Angka ini menjadi cermin bahwa pariwisata Indonesia tidak hanya pulih, tetapi bergerak menuju kualitas yang lebih baik, wisatawan yang datang tidak hanya lebih banyak, tetapi juga membelanjakan lebih banyak dan tinggal lebih lama.

Bagi pelaku industri pariwisata dan pecinta traveling, data ini memberikan gambaran tentang pasar yang sedang tumbuh, sekaligus petunjuk tentang segmen mana yang perlu digarap lebih serius.

Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, menyampaikan hal ini dalam konferensi pers, Senin (2/11/2026), dengan nada yang cukup optimistis meskipun tetap mencermati dinamika bulanan yang fluktuatif. Angka 12,01 juta kunjungan tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 5,01 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Pertumbuhan ini bukanlah lonjakan spektakuler, tetapi konsistensinya patut diapresiasi mengingat berbagai tantangan global yang masih membayangi—mulai dari ketegangan geopolitik, fluktuasi harga minyak, hingga perubahan pola perjalanan akibat faktor ekonomi.

Bagi Indonesia, pertumbuhan 5,01 persen menandakan bahwa negara ini masih menjadi destinasi yang diminati di tengah persaingan yang semakin ketat. Namun, angka ini juga mengingatkan bahwa pertumbuhan pariwisata tidak terjadi secara otomatis, memerlukan promosi yang berkelanjutan, peningkatan konektivitas, dan perbaikan kualitas layanan yang konsisten.

Baca Juga: Pemulihan Pariwisata Pasca-Bencana, Keselamatan Wisatawan Jadi Fokus Utama

Pada September 2026 saja, kunjungan wisman mencapai 1,43 juta, turun 10,79 persen dari Agustus tetapi naik 2,31 persen dari bulan yang sama tahun sebelumnya. Penurunan bulanan ini sejalan dengan pola musiman yang telah lama teramati: puncak kunjungan biasanya terjadi pada pertengahan tahun (Juni–Agustus) yang bertepatan dengan liburan sekolah di banyak negara, terutama di Eropa dan Australia.

Memasuki September, arus kunjungan mulai melandai seiring berakhirnya musim liburan dan dimulainya kembali aktivitas rutin. Namun, kenaikan tahunan sebesar 2,31 persen menunjukkan bahwa secara fundamental, daya tarik Indonesia masih kuat.

Berdasarkan kebangsaan, wisatawan Malaysia menyumbang porsi terbesar kunjungan pada September, yaitu 16,76 persen, disusul Australia 12,43 persen dan China 10,76 persen. Ketiga negara ini telah lama menjadi pasar utama bagi pariwisata Indonesia, dengan alasan yang berbeda-beda: Malaysia karena kedekatan geografis dan budaya, Australia karena konektivitas penerbangan yang baik dan iklim yang mendukung, serta China karena populasi yang besar dan meningkatnya minat terhadap destinasi internasional.

“Secara tahunan, Indonesia mencatatkan kenaikan kunjungan dari Australia dan China, sementara jumlah wisatawan dari Malaysia mengalami penurunan pada periode tersebut,” tambahnya.

Penurunan dari Malaysia ini perlu dicermati—apakah karena faktor ekonomi, perubahan preferensi, atau persaingan dari destinasi lain. Hal itu karena Malaysia adalah pasar yang sangat penting dan kehilangan pangsa di sana dapat berdampak signifikan pada angka keseluruhan.

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali tetap menjadi gerbang utama bagi wisatawan asing, dengan wisatawan Australia menyumbang porsi terbesar kunjungan melalui fasilitas tersebut. Dominasi Australia di Bali bukanlah hal baru—kedekatan geografis, konektivitas penerbangan yang baik, dan ikatan budaya yang telah lama terjalin menjadikan Australia sebagai pasar utama bagi Pulau Dewata.

Namun, ketergantungan pada satu pasar juga mengandung risiko; jika terjadi perubahan kondisi ekonomi atau kebijakan di Australia, kunjungan ke Bali dapat terpengaruh secara signifikan. Oleh karena itu, diversifikasi pasar—termasuk menggarap potensi dari China, India, dan negara-negara lain—tetap menjadi agenda penting bagi pengelola pariwisata Bali. Bagi wisatawan, Bali tetap menawarkan pengalaman yang sulit ditandingi: pantai, budaya, kuliner, dan keramahan yang telah menjadi ciri khasnya.

Salah satu indikator paling menggembirakan dari data BPS adalah peningkatan rata-rata belanja per kunjungan dan lama tinggal wisatawan asing.

Sementara itu, rata-rata lama tinggal meningkat menjadi 11,01 malam pada kuartal ketiga dari 10,30 malam pada kuartal sebelumnya. Angka-angka ini penting karena menunjukkan bahwa wisatawan tidak hanya datang lebih banyak, tetapi juga membelanjakan lebih banyak dan tinggal lebih lama—sebuah kombinasi yang sangat diidamkan oleh industri pariwisata mana pun.

“Rata-rata belanja naik dari US$1.285 pada kuartal kedua menjadi lebih dari US$1.374 pada kuartal berikutnya, melampaui level yang tercatat pada periode yang sama tahun sebelumnya,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *