FBI Konfirmasi TraderTraitor Korea Utara di Balik Peretasan Binance, Pencucian Uang Berlanjut

Ilustrasi hacker tengah beraksi.(freepik)

ASIAWORLDVIEW – FBI Amerika Serikat secara resmi mengonfirmasi bahwa kelompok peretas TraderTraitor yang terkait dengan Korea Utara berada di balik pencurian lebih dari US$6 miliar dari bursa kripto Binance pada pekan lalu. Dalam pernyataan yang dirilis, lembaga AS tersebut tidak hanya menetapkan aktor di balik insiden ini, tetapi juga meminta komunitas kripto—termasuk operator node, bursa, dan penyedia layanan keuangan terdesentralisasi (DeFi)—untuk memblokir transaksi dari ratusan alamat yang pernah menampung dana hasil peretasan tersebut.

Langkah ini menandai eskalasi dari sekadar investigasi menjadi tindakan penegakan hukum yang melibatkan koordinasi lintas lembaga dan sektor swasta, sekaligus menegaskan bahwa peretasan Binance bukanlah kejahatan siber biasa, melainkan operasi yang memiliki dimensi geopolitik dan keamanan nasional yang serius.

Menurut pernyataan FBI, para peretas telah mengonversi dana curian tersebut terutama menjadi ether (ETH), yang pada saat pernyataan dirilis diperdagangkan di sekitar US$2.287,48. Konversi ini bukan tanpa alasan: ether memiliki likuiditas yang sangat tinggi dan dapat dengan cepat dipindahkan melalui berbagai protokol DeFi tanpa melalui perantara terpusat yang dapat membekukan dana. FBI memperkirakan bahwa para peretas akan terus menggunakan layanan swap dan alat keuangan terdesentralisasi lainnya untuk mencuci dana tersebut, memanfaatkan sifat permissionless dari protokol DeFi yang memungkinkan siapa pun bertransaksi tanpa perlu verifikasi identitas.

Baca Juga: Binance Hadapi Dugaan Peretasan Terbesar di Industri Kripto, Sekitar US$3 Miliar Dibekuka

FBI bersama USSS (United States Secret Service) dan IRS-CI (Internal Revenue Service – Criminal Investigation) mendesak entitas sektor swasta—termasuk operator THORNode, operator node RPC, bursa instan, layanan DeFi, perusahaan analitik blockchain, dan penyedia layanan aset virtual lainnya—untuk memblokir transaksi dengan atau yang berasal dari alamat yang digunakan oleh pelaku TraderTraitor untuk mencuci aset curian ini.

Seruan ini menunjukkan bahwa penegakan hukum di ruang kripto tidak lagi sepenuhnya bergantung pada otoritas pusat, melainkan memerlukan kerja sama aktif dari infrastruktur desentralisasi yang selama ini beroperasi di luar jangkauan regulator tradisional.

Sebelumnya, FBI mencantumkan lebih dari 600 alamat Ethereum, hampir 20 alamat Bitcoin, dan satu alamat Solana yang terkait dengan aktivitas pencucian dana oleh TraderTraitor. Jumlah alamat yang sangat besar ini mencerminkan skala operasi pencucian yang dilakukan, serta upaya para peretas untuk memecah dana ke dalam banyak dompet kecil guna menghindari deteksi dan pemblokiran. Namun, daftar ini kemungkinan hanya sebagian kecil dari gambaran yang lebih besar.

Jonathan Levin, CEO Chainalysis, dalam pernyataannya mengatakan bahwa meskipun FBI mencantumkan beberapa ratus alamat, para penyerang telah menggunakan “ribuan alamat”. “Kami memperkirakan jumlah ini akan mencapai puluhan ribu dalam beberapa minggu mendatang seiring dengan transfer uang melalui jaringan pencucian uang yang lebih luas,” katanya. Ia menambahkan bahwa para penyerang “memiliki terlalu banyak uang untuk ditangani oleh tempat pencucian uang tepercaya mereka,” sehingga dana tersebut akan mengalir ke jaringan layanan yang lebih luas, seperti jembatan (bridges), pertukaran instan, dan penukar karena adanya kelompok pencuci uang yang lebih luas.

Salah satu temuan paling menarik dari analisis Chainalysis adalah penggunaan “mekanisme pencucian uang otomatis yang baru” oleh para penyerang. Dalam unggahan blog pada hari Jumat, perusahaan analitik blockchain tersebut menyatakan bahwa volume transaksi menunjukkan para penyerang menggunakan alat otomatis untuk mencoba “mengaburkan jejak dana” dengan mengedarkan dana tersebut antar alamat sebelum mengirimkannya ke tujuan selanjutnya.

Otomatisasi ini memungkinkan pergerakan dana dalam skala besar dan cepat, jauh melampaui kemampuan tim kepatuhan bursa atau analis blockchain untuk melacak secara manual. Dalam konteks ini, kecepatan menjadi senjata: semakin cepat dana berpindah antar alamat. Jadi, semakin kecil kemungkinan pihak berwenang atau platform untuk mengintervensi sebelum dana tersebut tercampur dengan aliran transaksi yang sah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa para pelaku pencucian uang di ruang kripto telah mengadopsi teknologi yang setara dengan kemampuan analitik pihak berwenang—sebuah perlombaan senjata yang terus berkembang dan menuntut respons yang lebih canggih dari sisi penegakan hukum.

One thought on “FBI Konfirmasi TraderTraitor Korea Utara di Balik Peretasan Binance, Pencucian Uang Berlanjut”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *