Rupiah Melemah ke Rp18.149 per Dolar AS, Pasar Tunggu Sinyal Bank Indonesia

Rupiah

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah tipis ke level Rp18.149 per dolar AS atau US$ pada Senin (2/11/2026). Angka ini melanjutkan tren pelemahan yang terjadi sejak akhir pekan sebelumnya.

Pergerakan ini terbilang datar namun tetap mencerminkan kerentanan yang belum sepenuhnya hilang, dengan pasar masih mencermati arah kebijakan Bank Indonesia serta serangkaian data ekonomi domestik yang akan dirilis dalam pekan tersebut. Bagi pelaku pasar dan masyarakat umum, level Rp18.100-an bukanlah angka yang asing lagi—rupiah telah bergerak di kisaran tersebut selama beberapa waktu terakhir, dan pertanyaannya kini adalah apakah ada katalis yang cukup kuat untuk membawa mata uang ini keluar dari zona tekanan yang berkepanjangan.

Berdasarkan data dari berbagai sumber, rupiah pada pembukaan perdagangan Senin bergerak melemah 2 poin atau sekitar 0,01 persen menjadi Rp18.149 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.147. Data Bloomberg yang dikutip detikFinance menunjukkan level yang sedikit berbeda, yakni Rp18.162 pada sekitar pukul 09.10 WIB, dengan penguatan dolar AS sebesar 15 poin atau 0,08 persen.

Baca Juga: Keputusan The Fed Jadi Angin Segar bagi Rupiah, BI Siapkan Berbagai Instrumen Stabilisasi

Pergerakan rupiah pada awal November tidak lepas dari perhatian pasar terhadap langkah Bank Indonesia. Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menyebutkan bahwa pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan moneter BI, terutama terkait keputusan suku bunga acuan.

Gubernur BI Destry Damayanti sebelumnya menyampaikan bahwa keputusan suku bunga akan tetap mempertimbangkan perkembangan data ekonomi dan kondisi pasar, sebuah sinyal bahwa pendekatan yang diambil bersifat data-dependent dan tidak terburu-buru. Selain suku bunga, BI juga memiliki sejumlah instrumen lain untuk menjaga stabilitas rupiah, termasuk insentif biaya lindung nilai (hedging), kebijakan makroprudensial, serta optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) . Kombinasi instrumen ini memberikan ruang bagi bank sentral untuk merespons tekanan tanpa harus selalu mengandalkan kenaikan suku bunga yang memiliki efek samping terhadap sektor riil.

Dari sisi data domestik, pasar menantikan serangkaian rilis ekonomi yang dijadwalkan dalam pekan tersebut. Antara News melaporkan bahwa rupiah bergerak datar menjelang rilis serentetan data ekonomi domestik, dengan prediksi pergerakan pada rentang Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS. Prediksi ini memberikan gambaran bahwa pasar tidak mengharapkan lonjakan volatilitas yang signifikan dalam jangka sangat pendek, tetapi juga tidak melihat adanya katalis kuat yang dapat mendorong penguatan rupiah secara berarti.

Di balik pergerakan yang terlihat datar, ada tekanan struktural yang masih membayangi rupiah. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di kisaran 7,6 hingga 7,7 persen pada akhir Oktober 2026, meningkat cukup tajam dibandingkan posisi akhir 2025 yang masih sekitar 6,1 persen.

Dari sisi global, harga minyak dunia mengalami penurunan pada awal November. Data dari Sohu dan VOV menunjukkan bahwa Brent turun sekitar 1,4 hingga 2 persen ke kisaran US$109 hingga $111 per barel, sementara WTI bergerak di sekitar $100 hingga $102 per barel . Penurunan ini sedikit meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dari sisi energi, namun pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi geopolitik yang dapat membalikkan arah harga minyak dengan cepat.

Selain itu, ekspektasi terhadap kebijakan The Fed masih menjadi faktor yang diperhitungkan. Meskipun tidak ada keputusan besar yang dijadwalkan pada awal November, pasar terus mencermati sinyal-sinyal dari pejabat The Fed mengenai arah suku bunga ke depan. Dalam lingkungan suku bunga global yang masih tinggi, daya tarik aset-aset negara berkembang—termasuk rupiah—relatif terbatas dibandingkan aset dolar AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *