ASIAWORLDVIEW – Bursa kripto terbesar di dunia, Binance, memberikan pembaruan penting mengenai proses pemulihan pasca-insiden keamanan siber yang mengguncang industri pada akhir Oktober 2026. Dalam pernyataan resmi melalui platform X, bursa tersebut mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menutup 90% kerugian yang timbul dari insiden peretasan senilai lebih dari $6,3 miliar tersebut.
Langkah ini menjadi sinyal positif bagi pasar yang sebelumnya diliputi kekhawatiran, sekaligus menunjukkan komitmen Binance untuk menanggung seluruh dampak finansial tanpa membebani pengguna. Bagi pelaku pasar dan investor, pembaruan ini memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kecepatan dan skala respons bursa dalam menghadapi salah satu insiden keamanan terbesar dalam sejarah aset digital.
Sejak awal, Binance telah menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan pengguna menanggung kerugian akibat insiden ini. Dalam pembaruan terbarunya, bursa kembali menegaskan komitmen tersebut dengan menyatakan bahwa mereka akan terus membeli sisa token yang terdampak melalui jalur pasar reguler maupun over-the-counter (OTC) hingga cakupan penggantian mencapai 100% untuk seluruh token.
“Kami akan terus membeli sisa aset token yang relevan melalui pasar dan jalur OTC sampai jumlah yang tercakup mencapai 100% untuk semua token. Binance akan menyerap dampak finansial dari dana yang dicuri ini, bukan pengguna kami,” demikian pernyataan resmi bursa.
Baca Juga: Insiden Binance Guncang Kepercayaan Pasar Global, Bagaimana Kripto di Indonesia?
Binance secara spesifik menyebutkan bahwa aset-aset utama seperti BTC, ETH, USDT, BNB, SOL, USDC, XRP, USD1, RLUSD, dan ZEC kini telah 100% terbacking. Artinya, untuk kesepuluh aset tersebut, jumlah dana yang tersedia telah sepenuhnya menutupi jumlah yang hilang akibat peretasan. Pencapaian ini bukan hal kecil mengingat skala kerugian yang mencapai miliaran dolar dan kompleksitas operasional yang terlibat dalam proses penggantian aset.
Bagi pengguna yang menyimpan aset-aset tersebut di Binance, informasi ini memberikan rasa aman yang lebih konkret: tidak ada kekurangan saldo, tidak ada penundaan penarikan yang berkepanjangan, dan tidak ada risiko kerugian yang harus ditanggung sendiri. Kepastian ini sangat penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap platform, terutama di tengah sentimen pasar yang sedang rapuh akibat berita peretasan.
Untuk menutup kerugian, Binance mengungkapkan bahwa pihaknya telah menggunakan kombinasi beberapa sumber dana internal. Pertama, bursa mentransfer 7.499 BTC dari SAFU (Secure Asset Fund for Users)—dana cadangan yang memang dirancang khusus untuk melindungi pengguna dalam situasi darurat. Kedua, Binance juga menggunakan sebagian dari dana asuransi Futures, yang menurut bursa merupakan persyaratan regulasi. Ketiga, sisa dana penggantian berasal dari kas perusahaan (corporate treasury) Binance sendiri.
Meskipun 90% kerugian telah tertutup, masih ada 10% sisa yang perlu diselesaikan. Binance menjelaskan bahwa sisa tersebut terdiri dari token-token yang tidak termasuk dalam 10 aset utama yang telah disebutkan sebelumnya. “Aset-aset ini kurang likuid, yang berarti mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk mendapatkan jumlah yang dibutuhkan. Kami bekerja sama dengan mitra industri untuk menyelesaikan akuisisi yang tersisa dan akan memberikan pembaruan lebih lanjut seiring kemajuan,” jelas bursa. Penjelasan ini masuk akal secara ekonomi: token-token dengan kapitalisasi pasar kecil dan volume perdagangan rendah memang lebih sulit dibeli dalam jumlah besar tanpa menggerakkan harga secara signifikan.
