ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bergerak mixed pada Jumat (30/10/2026), namun secara umum menunjukkan penguatan tipis terbatas di awal sesi. Level pembukaan berada di kisaran Rp18.120 hingga Rp18.128 per dolar AS. Penguatan ini terjadi di tengah upaya Bank Indonesia (BI) yang terus melakukan stabilisasi dan masih besarnya tekanan eksternal maupun domestik yang membayangi pergerakan rupiah.
Namun secara harian rupiah mencatatkan apresiasi kecil, level tersebut masih berada di area yang sangat lemah secara historis, mencerminkan kerentanan struktural yang belum sepenuhnya teratasi. Berdasarkan data dari berbagai sumber pasar, rupiah dibuka menguat tipis pada Jumat pagi. Data Bloomberg menunjukkan rupiah dibuka di level Rp18.127 per dolar AS, menguat 10 poin atau 0,06 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.137.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif pada rentang Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS sepanjang hari tersebut. Penguatan tipis rupiah pada hari itu tidak lepas dari respons positif pasar terhadap keputusan Federal Reserve yang tidak menaikkan suku bunga.
Baca Juga: OJK Tegaskan Kondisi Pasar Modal Indonesia Tidak Layak Disebut Standalone Market
Meskipun mencatatkan penguatan, rupiah masih menghadapi tekanan yang sangat berat. Sentimen risk-off dan aksi jual bersih (net sell) investor asing di pasar domestik masih menjadi beban utama . Kekhawatiran terhadap status Indonesia dalam evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berpotensi menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi standalone terus memicu kekhawatiran akan arus modal keluar yang berkelanjutan.
Dari sisi eksternal, harga minyak dunia yang bertahan di atas level 115 dolar AS per barel akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah meningkatkan risiko fiskal dan kebutuhan valuta asing domestik . Selain itu, imbal hasil SBN acuan 10 tahun sempat menyentuh level 7,707 persen, tertinggi dalam enam tahun dan jauh melampaui asumsi APBN 2026 sebesar 6,9 persen, yang mencerminkan persepsi risiko yang meningkat terhadap aset Indonesia .
Bank Indonesia menegaskan bahwa pihaknya belum memastikan apakah akan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) yang saat ini berada di level 5,75 persen. Pendekatan data-dependent, dengan mempertimbangkan bahwa kenaikan suku bunga bukan satu-satunya instrumen dan memiliki efek samping terhadap sektor riil.

