BI Soroti Tekanan Global, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diperkirakan Tetap Tangguh

Gubernur BI Destry Damayanti

ASIAWORLDVIEW – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap kuat dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Kondisi ini ditopang oleh konsumsi domestik yang stabil dan kinerja investasi yang positif, meskipun ketidakpastian pasar global masih berlanjut.

Berbicara pada konferensi pers setelah Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (21/10/2026), Gubernur BI Destry Damayanti menyoroti bahwa prospek ekonomi global masih lemah dan bergejolak. Apalagi dengan konflik Timur Tengah yang kembali memanas.

“Situasi ini dipengaruhi oleh intensifikasi konflik di Timur Tengah, yang membuat harga minyak dan berbagai komoditas global tetap tinggi,” catat Gubernur BI Destry Damayanti

BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 tetap tertekan di sekitar 3 persen, dengan inflasi global diperkirakan berkisar 4,6 persen. Bank sentral memperingatkan bahwa kondisi moneter global yang ketat akan bertahan dalam skenario “higher for longer”, didorong oleh kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve Amerika Serikat.

Baca Juga: BI Andalkan Intervensi Berlapis Hadapi Tekanan terhadap Rupiah

Imbal hasil US Treasury yang tinggi, yang dipicu oleh perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS dan defisit anggaran yang melebar, juga telah membatasi selera investor terhadap aset pasar berkembang, menjaga Indeks Dolar AS tetap kuat.

Untuk mengatasi tekanan eksternal tersebut, Destry menekankan perlunya respons yang lebih kuat dan terkoordinasi dari otoritas fiskal dan moneter. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. Secara domestik, BI menilai bahwa ekonomi Indonesia tetap tangguh.

Konsumsi rumah tangga tetap stabil, didukung oleh berbagai stimulus fiskal pemerintah yang berkelanjutan dan membaiknya sentimen konsumen. Investasi juga tumbuh, ditopang oleh proyek-proyek pemerintah dan meningkatnya partisipasi sektor swasta, sebagaimana tercermin dalam Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang ekspansif. Sementara itu, ekspor nonmigas telah membaik tetapi memerlukan dukungan lebih lanjut untuk memanfaatkan kenaikan harga komoditas.

“Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen,” pungkas Destry.

Ketika banyak negara di kawasan menghadapi perlambatan, Indonesia masih memiliki ruang untuk tumbuh, didorong oleh pasar domestik yang besar dan konsumsi yang stabil. Namun, tantangan tetap ada: menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan harga, memastikan investasi terus mengalir, dan mengelola ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *