Bahaya Kabut Asap bagi Kesehatan: Risiko ISPA, Asma, hingga Penyakit Jantung

Dampak dari kebakaran hutan dan lahan.(Antara)

ASIAWORLDVIEW –  Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan salah satu ancaman lingkungan yang memiliki dampak serius terhadap kesehatan masyarakat di Indonesia. Asap yang dihasilkan mengandung berbagai partikel berbahaya, terutama partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan berbagai zat kimia beracun lainnya yang dapat masuk hingga ke saluran pernapasan terdalam.

Mengutip Mayo Clinic, Selasa (20/10/2026), ketika masyarakat terpapar asap dalam waktu yang lama, risiko mengalami gangguan kesehatan meningkat secara signifikan. Mulai dari iritasi mata, hidung, dan tenggorokan hingga penyakit yang lebih serius seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, bronkitis, dan pneumonia.

Kelompok yang paling rentan terhadap dampak ini adalah bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu yang memiliki riwayat penyakit pernapasan dan kardiovaskular. Selain menyerang sistem pernapasan, paparan asap karhutla juga dapat memengaruhi kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Partikel mikroskopis yang terhirup dapat masuk ke aliran darah dan memicu peradangan dalam tubuh. Akhirnya meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, tekanan darah tinggi, serta gangguan irama jantung.

Dalam jangka panjang, paparan polusi udara akibat karhutla berpotensi menurunkan fungsi paru-paru secara permanen dan meningkatkan risiko penyakit kronis. Bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa kualitas udara yang buruk dalam periode berkepanjangan dapat berdampak pada perkembangan paru-paru anak dan menurunkan kualitas kesehatan mereka hingga dewasa.

Baca Juga: Kabut Asap Lintas Batas: Ketika Paru-Paru Ikut Jadi Korban Terdampak Kebakaran Hutan dan Lahan

Masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak sering mengalami gangguan psikologis akibat kabut asap yang berlangsung lama. Aktivitas sehari-hari yang terganggu, keterbatasan mobilitas, penutupan sekolah, serta kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga dapat memicu stres, kecemasan, dan menurunkan kualitas hidup.

Anak-anak yang harus mengurangi aktivitas luar ruangan dan kehilangan waktu belajar juga berisiko mengalami dampak terhadap perkembangan sosial dan pendidikan mereka. Dalam bahasa kesehatan masyarakat, ini adalah bentuk beban ganda: penyakit fisik yang meningkat bersamaan dengan tekanan mental yang tidak terlihat.

Dari sisi kesehatan masyarakat secara luas, karhutla dapat membebani sistem layanan kesehatan karena meningkatnya jumlah pasien yang membutuhkan perawatan. Puskesmas dan rumah sakit sering mengalami lonjakan kasus gangguan pernapasan saat musim kebakaran terjadi.

Situasi ini tidak hanya meningkatkan biaya kesehatan yang harus ditanggung masyarakat dan pemerintah, tetapi juga dapat mengganggu pelayanan kesehatan untuk penyakit lainnya. Di daerah yang mengalami kabut asap ekstrem, jarak pandang yang menurun juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas dan transportasi, sehingga menambah potensi korban cedera.

Episode asap yang melintasi batas negara telah berulang kali memicu ketegangan diplomatik antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura, menunjukkan bahwa karhutla memiliki dimensi politik dan ekonomi yang lebih luas daripada sekadar bencana lingkungan.

Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan saat terjadi kabut asap dengan menggunakan masker berstandar baik seperti N95, mengurangi aktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, menjaga ventilasi rumah tetap aman, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala gangguan pernapasan. Upaya pencegahan dan penanganan yang cepat tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga menyelamatkan kualitas hidup dan kesehatan jutaan penduduk Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *