ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menunjukkan tekanan meskipun pergerakannya relatif terbatas dibandingkan badai pelemahan tajam pada akhir pekan sebelumnya pada Senin (19/10/2026). Rupiah dibuka melemah tipis 8 poin atau sekitar 0,04 persen ke level Rp18.035 per dolar AS, melanjutkan posisi penutupan Jumat lalu di Rp18.027.
Data mencatat pembukaan yang sedikit lebih dalam, yakni melemah 27 hingga 28 poin ke kisaran Rp18.051 hingga Rp18.054 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia tercatat di level Rp18.052 per dolar AS, turun Rp104 dari posisi sehari sebelumnya, mengonfirmasi bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut . Meski demikian, terdapat pula data yang menunjukkan pembukaan rupiah di level Rp18.026 atau bahkan stagnan di Rp18.000, mencerminkan adanya variasi antar sumber data dan tipisnya pergerakan di awal sesi.
Tekanan yang masih membayangi rupiah pada hari ini tidak terlepas dari sentimen negatif yang berasal dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada pekan lalu. MSCI membuka konsultasi publik untuk mengkaji potensi penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, yang memicu kekhawatiran investor terhadap prospek pasar keuangan domestik.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi 8% Butuh Investasi Jumbo, Pemerintah Siapkan Reformasi Perizinan
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menegaskan bahwa sentimen risk-off terkait MSCI masih menjadi faktor utama yang menekan rupiah . Selain itu, faktor domestik lain seperti tingginya harga minyak dunia dan besarnya impor energi turut membebani defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diproyeksikan mendekati batas maksimal 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kombinasi antara kekhawatiran terhadap tata kelola pasar modal dan tekanan fiskal ini menciptakan lingkungan yang kurang kondusif bagi penguatan rupiah.
Meskipun demikian, terdapat pula faktor eksternal yang sedikit meredam pelemahan lebih lanjut. Indeks dolar AS (DXY) terpantau relatif stagnan di level 101,832 pada pagi hari, bahkan disebutkan menguat dibandingkan hari sebelumnya . Pelemahan rupiah yang tidak sedalam Jumat lalu juga menunjukkan bahwa pasar mungkin sedang menunggu langkah konkret dari otoritas. Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan melanjutkan intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF) untuk menjaga stabilitas.
Bahkan, muncul ekspektasi bahwa BI mungkin akan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) dalam pertemuan pada Rabu, 21 Oktober 2026, sebagai respons terhadap tekanan yang berkelanjutan. Langkah ini, jika diambil, akan menjadi sinyal kuat bahwa bank sentral serius dalam menjaga stabilitas rupiah, meskipun di sisi lain berpotensi memberi tekanan pada pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi domestik.

