ASIAWORRLDVIEW – Jakarta tengah bersiap untuk transformasi besar-besaran yang akan mengubah wajah ruang publik dan pengalaman kuliner warganya. Pengumuman ini disampaikan setelah menghadiri upacara penandatanganan kerja sama antara perusahaan daerah, BUMN, dan instansi pemerintah di Balai Kota Jakarta pada Senin (12/10/2026).
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, mengumumkan rencana ambisius untuk mengubah Pasar Baru menjadi kawasan kuliner 24 jam bergaya Korea pada tahun 2027, setelah pembangunan ulang Blok M Hub selesai. Ini visi yang menggabungkan imajinasi budaya global dengan identitas lokal, menciptakan pengalaman urban yang unik dan berlapis.
“Setelah Blok M selesai, kami berharap bisa mulai di Pasar Baru pada 2027. Saya membayangkan kawasan kuliner 24 jam seperti Myeongdong, sementara Blok M bisa bergaya Jepang,” ujar Pramono Anung.
Kawasan kuliner 24 jam seperti Myeongdong di Seoul telah lama menjadi magnet bagi wisatawan dan warga lokal karena atmosfernya yang hidup, variasi makanannya yang luas, dan suasana yang memungkinkan orang berkumpul kapan saja. Dengan menghadirkan konsep serupa di Pasar Baru.
Baca Juga: Dari Sushi ke Toast: Tren Japanese-Inspired Food di Indonesia
Jakarta tidak hanya menawarkan tempat makan, tetapi juga menciptakan ruang sosial yang inklusif dan dinamis. Kedua, tren distrik tematik yang memberikan identitas visual dan budaya yang kuat pada suatu kawasan. Blok M yang bergaya Jepang, Glodok sebagai Chinatown, Kota Tua dengan nuansa Eropa, dan Pasar Baru yang berorientasi Korea—masing-masing menawarkan pengalaman yang berbeda, memungkinkan warga dan wisatawan untuk “berkeliling dunia” tanpa meninggalkan Jakarta.

Pramono Anung juga menguraikan rencana untuk merenovasi Glodok dan Kota Tua. Glodok akan mengambil karakter Tionghoa, sementara Kota Tua akan menampilkan suasana bergaya Eropa.
“Selanjutnya adalah Glodok dan Kota Tua. Glodok adalah Chinatown, terkenal dengan makanannya. Kota Tua akan menyasar pengunjung kelas menengah atas, termasuk wisatawan Eropa, dengan suasana yang lebih mendekati Eropa,” ia menambahkan.
Jika jaringan Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta diperluas ke area-area ini, rute tersebut akan melewati empat distrik tematik yang terinspirasi oleh Jepang, Korea, Tiongkok, dan Eropa. Blok M, yang menjadi proyek percontohan, akan mengalami perombakan total dengan target penyelesaian penuh pada 2029, menciptakan hub transit modern dan terintegrasi.
“Saya yakin ini akan membuat Jakarta menonjol,” tambahnya. Visi ini bukan hanya tentang estetika; ia adalah strategi ekonomi dan budaya yang bertujuan menarik wisatawan, meningkatkan belanja lokal, dan menciptakan lapangan kerja di sektor pariwisata dan kuliner.
