ASIAWORLDVIEW – Kasus yang viral di media sosial baru-baru ini menyoroti kisah pilu seorang bayi berusia 24 hari di Surabaya yang meninggal dunia setelah diduga diberi telur mentah oleh neneknya saat mengalami demam. Berdasarkan keterangan yang beredar, telur mentah tersebut diberikan untuk membantu menurunkan panas tubuh—sebuah praktik yang mungkin diwariskan dari generasi ke generasi, namun kini berbenturan dengan pemahaman medis modern tentang kebutuhan bayi baru lahir. Setelah diberi telur mentah, kondisi bayi dilaporkan memburuk, mengalami gangguan kesehatan serius hingga harus menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo sebelum akhirnya meninggal dunia.
Mengutip dari berbagai sumber, Senin (12/10/2026), pihak rumah sakit menyatakan penyebab pasti kematian masih memerlukan penjelasan medis lebih lanjut, sehingga belum dapat dipastikan bahwa telur mentah menjadi satu-satunya penyebab kematian. Sistem pencernaan mereka belum matang, sistem kekebalan tubuh masih dalam tahap pembentukan, dan setiap asupan yang masuk ke tubuh mereka memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar dibandingkan pada orang dewasa. Secara medis, bayi baru lahir seharusnya hanya mengonsumsi ASI atau susu formula sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Baca Juga: Gerakan Anti Ruam, Edukasi Klinis Kesehatan Kulit Bayi
ASI mengandung nutrisi yang tepat, antibodi yang melindungi dari infeksi, dan faktor pertumbuhan yang mendukung perkembangan organ. Tidak ada makanan lain yang dapat menggantikan peran ASI pada usia ini—termasuk telur mentah, yang mungkin dianggap memiliki khasiat tertentu dalam kepercayaan tradisional, tetapi secara ilmiah justru membawa risiko yang tidak sebanding dengan manfaat yang diharapkan.
Risiko utama dari pemberian telur mentah kepada bayi sangat serius. Telur mentah berisiko mengandung bakteri seperti Salmonella, yang dapat menyebabkan infeksi berat pada bayi dengan sistem kekebalan yang belum berkembang. Infeksi Salmonella pada bayi dapat menyebabkan diare hebat, dehidrasi, demam tinggi, dan dalam kasus yang parah, sepsis—infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh dan mengancam nyawa. Selain risiko infeksi, pemberian makanan terlalu dini juga dapat menyebabkan gangguan pencernaan, tersedak, dehidrasi, hingga komplikasi serius lainnya. Sistem pencernaan bayi belum menghasilkan enzim yang cukup untuk memecah protein kompleks seperti yang terdapat dalam telur, sehingga makanan tersebut dapat membebani organ yang masih rapuh.

Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Kemenkes RI dr. Lovely Daisy, M.K.M. dalam situs resmi Kemenkes menjelaskan, ada alasan mengapa MPASI (Makanan Pendamping ASI) baru dianjurkan sekitar usia 6 bulan: pada usia itu, sistem pencernaan bayi sudah cukup matang untuk menangani makanan padat, dan kebutuhan nutrisinya mulai melampaui apa yang dapat disediakan oleh ASI saja. Sebelum usia tersebut, memberikan makanan apa pun selain ASI atau susu formula adalah risiko yang tidak perlu diambil.
“Kemenkes menganjurkan MPASI diberikan mulai usia 6 bulan karena pada usia 6 bulan terdapat kesenjangan kebutuhan energi bayi dengan yang dapat dicukupi dari ASI saja. Secara global, sebagian besar pedoman di Amerika dan Eropa juga merekomendasikan, MPASI dimulai pada usia 6 bulan,” ujar Daisy di Jakarta, ditulis Senin (9/12).
“Namun, perlu diperhatikan, bila memperkenalkan MPASI terlalu dini akan meningkatkan risiko kontaminasi patogen. Sebaliknya, bila memperkenalkan MPASI terlambat akan menyebabkan bayi tidak mendapatkan zat gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang.”
Berdasarkan pedoman “WHO Guideline for Complementary Feeding of Infants and Young Children 6–23 Months of Age” tahun 2023, pemberian MPASI dini pada usia kurang dari 6 bulan memiliki dampak buruk.
“Perkembangan bayi yang belum memadai dalam kesiapan mengonsumsi makanan (organ-organ bayi belum siap mencerna makanan), meningkatkan potensi risiko peningkatan morbiditas karena penyakit gastrointestinal, seperti penyakit diare dan risiko alergi,” terang Daisy.
