Rupiah Alami Penguatan, Geopolitik dan Imbal Hasil Obligasi AS Masih Jadi Dua Faktor Penghambat

Nilai Tukar Rupiah

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menunjukkan penguatan ringan pada pembukaan perdagangan di Jakarta, membalikkan tren penurunan pada penutupan sesi perdagangan sebelumnya. Rupiah dibuka pada level 17.896 Rupiah per dolar AS, menguat 19 poin atau sekitar 0,11% dibandingkan harga penutupan hari perdagangan sebelumnya sebesar 17.915 Rupiah.

Faktor pemicu langsung penguatan rupiah pada pembukaan perdagangan kali ini berasal dari penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan melemahnya Indeks Dolar AS.

Analis futures Doo Financial, Lukman Leong, mencatat bahwa penguatan rupiah terutama didorong oleh “penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS”, di mana imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turun ke kisaran 5,22%, turun sekitar 4 basis poin dibandingkan sesi perdagangan sebelumnya.

Baca Juga: BI Dorong Investasi SDM Hadapi Transisi Ekonomi Hijau dan Digital

Sementara itu, Indeks Dolar AS juga mengalami pelemahan ringan, turun dari level sekitar 102,17 sebelumnya ke kisaran 102,13 hingga 102,17, dengan penurunan sekitar 0,08% hingga 0,12%. Laporan Katadata lebih lanjut menyebutkan bahwa lelang obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun mencapai 39 miliar dolar AS, dan setelah hasil lelang diumumkan, imbal hasilnya mengalami penurunan, yang memberikan ruang bernapas sementara bagi mata uang pasar emerging.

Selain itu, Lukman juga menyebutkan bahwa meningkatnya ekspektasi pasar terhadap tercapainya perjanjian perdamaian di Timur Tengah juga memberikan dukungan tambahan bagi rupiah. “Sentimen positif didorong oleh meningkatnya harapan akan perjanjian perdamaian di Timur Tengah,” ujarnya. Ekspektasi ini kontras dengan sentimen safe-haven yang muncul akibat eskalasi situasi di Timur Tengah pada sesi perdagangan sebelumnya, yang menunjukkan adanya perbaikan marjinal dalam sentimen pasar dalam jangka pendek.

Dari sisi domestik, cadangan devisa Bank Indonesia (BI) masih memberikan penyangga tertentu bagi rupiah. Per akhir September 2026, cadangan devisa tetap berada di sekitar 146,3 miliar dolar AS, mendekati level tertinggi dalam lima bulan, yang cukup untuk menutupi kebutuhan pembiayaan impor selama sekitar 5,3 bulan. Sementara itu, pelaku pasar sedang mencermati dengan saksama data penjualan ritel bulan Agustus yang akan segera dirilis, yang dianggap sebagai indikator penting untuk mengukur permintaan konsumsi domestik.

Meskipun pembukaan pasar menunjukkan tanda-tanda positif, faktor struktural yang menghambat apresiasi rupiah secara berkelanjutan masih signifikan. Imbal hasil obligasi AS, meskipun turun dibandingkan hari sebelumnya, masih berada di level tinggi 5,22%, jauh di atas rata-rata historis.

Risiko geopolitik tetap menjadi pedang Damokles yang menggantung di atas rupiah. Pada sesi perdagangan sebelumnya, ketegangan antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz sempat mendorong harga minyak mentah Brent menembus level 100 dolar AS per barel, yang memberikan tekanan pada rupiah. Meskipun harapan pasar terhadap perjanjian perdamaian di Timur Tengah sedikit meningkat pada hari itu, ketidakpastian situasi belum sepenuhnya hilang. Sebagai negara pengimpor minyak mentah bersih, Indonesia sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi. Jika situasi di Timur Tengah kembali memburuk, kenaikan harga minyak akan secara langsung meningkatkan permintaan valuta asing untuk impor, yang pada gilirannya akan menekan nilai tukar rupiah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *