ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia kembali tertekan ke zona merah, Kamis (8/10/2026). Hingga akhir sesi I siang ini, IHSG berada di level 6.097,40, turun 49,32 poin atau 0,80% dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 6.146,72. Pelemahan ini memperpanjang koreksi yang sudah terjadi sejak sehari sebelumnya, sekaligus mengonfirmasi bahwa rebound tiga hari berturut-turut yang dinikmati pasar pekan lalu belum sepenuhnya mendapat dukungan dari arus dana asing.
Secara intraday, pergerakan IHSG hari ini berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Indeks dibuka menguat tipis di level 6.154,97, naik 0,13% dari penutupan sebelumnya. Dari sisi breadth pasar, dominasi saham yang melemah terlihat sangat jelas. Data RTI Business mencatat sebanyak 440 saham melemah, sementara hanya 200 saham yang berhasil menguat, dan 142 saham lainnya stagnan. Aktivitas transaksi tercatat cukup ramai dengan volume perdagangan mencapai 43,80 miliar lembar saham dan nilai transaksi sekitar Rp7,05 triliun. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1.130.055 kali, dengan kapitalisasi pasar BEI berada di level Rp10.729,810 triliun.
Hampir seluruh sektor saham mengalami koreksi, dengan sektor teknologi menjadi pemberat terbesar. Berdasarkan data Indeks Sektoral IDX-IC, sektor teknologi turun 1,82%, disusul sektor energi yang melemah 1,73%, infrastruktur turun 1,50%, perindustrian -1,04%, barang baku -0,79%, serta properti dan real estate -0,60%. Sektor keuangan juga ikut tertekan dengan penurunan 0,51%, diikuti sektor barang konsumer primer -0,37% dan kesehatan -0,05%. Adapun dua sektor yang berhasil bertahan di zona hijau adalah transportasi yang naik 0,46% dan barang konsumer non-primer yang menguat tipis 0,08%.
Baca Juga: Tak Hanya Pikirkan Cuan, PisAgro Usung Zero Waste
Saham-saham yang menjadi penekan utama IHSG antara lain PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang turun 6,67% ke Rp28 per saham, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang melemah 6,55% ke Rp785, dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) yang terkoreksi 4,29% ke Rp1.340. Di antara saham berkapitalisasi besar, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun 0,64% ke Rp3.120, PT Bank Mandiri (BMRI) melemah 1,22% ke Rp4.050, PT Aneka Tambang (ANTM) turun 1,55% ke Rp3.180, dan PT Bayan Resources (BYAN) terkoreksi 1,99% ke Rp12.300. Sementara itu, saham-saham yang berusaha menopang indeks dari koreksi lebih dalam meliputi PT Bank Central Asia (BBCA) yang naik 0,41% ke Rp6.075, PT Telkom Indonesia (TLKM) yang menguat 0,43% ke Rp2.320, dan PT Astra International (ASII) yang naik 1,46% ke Rp4.850.
Faktor utama yang menekan IHSG hari ini adalah sikap hawkish The Federal Reserve yang terungkap dalam risalah rapat FOMC September 2026. Risalah tersebut menunjukkan bahwa mayoritas pejabat The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga acuan sekali lagi sebelum akhir tahun ini. Dari 18 pejabat The Fed dalam proyeksi September, sebanyak 16 pejabat memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga masih akan terjadi pada tahun ini. Rapat FOMC berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 28 Oktober dan 9 Desember 2026. Ekspektasi suku bunga yang bertahan tinggi menjadi sentimen negatif bagi pasar saham global, karena dapat meningkatkan biaya pendanaan perusahaan dan mengurangi potensi pertumbuhan laba emiten. Pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober turun menjadi 19,38%, tetapi peluang kenaikan pada Desember justru melonjak menjadi 98,37%.
Selain faktor The Fed, lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) juga menjadi perhatian besar bagi pasar Indonesia. Yield Treasury AS tenor 10 tahun sempat mencapai level 5,365% pada perdagangan Rabu, merupakan yang tertinggi sejak April 2002. Yield Treasury 30 tahun bahkan sempat menyentuh 5,732%. Kenaikan yield Treasury ini membuat aset-aset dolar AS semakin menarik bagi investor global, sehingga memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurut analis Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, yield Treasury AS yang kembali ke area tertinggi sejak periode 2006-2007 membuat instrumen dolar semakin menarik, dan akibatnya dana asing cenderung mengalir ke Amerika Serikat.
Aksi jual investor asing pun masih berlanjut. Pada perdagangan Rabu (7/10), investor asing mencatat jual bersih sekitar Rp871,36 miliar di seluruh pasar, sementara di pasar reguler mencapai Rp828,65 miliar. Secara year to date, all market telah mengalami net foreign outflow sebesar Rp83,60 triliun, dan di pasar reguler mencapai Rp110,28 triliun. Arus keluar dana asing ini menjadi salah satu faktor yang membuat rebound IHSG dari area psikologis 6.000 belum sepenuhnya mendapatkan konfirmasi.

