Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp17.866, Pasar Masih Wait and See

Teller memegang tumpukan uang rupiah.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka menguat ke level Rp17.866 per dolar AS, pada Rabu (7/10/2026), naik 33 poin atau 0,18 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp17.899. Penguatan ini menjadi awal yang positif bagi mata uang Garuda di tengah bayang-bayang ketidakpastian global yang masih membayangi pergerakan pasar keuangan.

Namun penguatan tersebut masih tergolong tipis dan rentan terhadap perubahan sentimen. Apalagi mengingat volume perdagangan yang relatif terbatas karena investor memilih bersikap wait and see.

Secara intraday, pergerakan rupiah menunjukkan variasi level yang cukup dinamis. Data Bloomberg mencatat rupiah berada di level Rp17.866 per dolar AS pada pembukaan pagi, sementara sumber lain mencatat posisi Rp17.882 dan Rp17.887 per dolar AS, mencerminkan adanya perbedaan tipis antar penyedia data yang umum terjadi di pasar valas.

JISDOR Bank Indonesia pada hari sebelumnya, 6 Oktober, tercatat di level Rp17.910 per dolar AS, turun dari Rp17.917 pada posisi sehari sebelumnya, yang mengonfirmasi adanya tren penguatan rupiah secara bertahap. Rentang pergerakan rupiah sepanjang hari diprediksi berada di kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS, dengan kecenderungan fluktuatif namun berpotensi menguat terbatas.

Baca Juga: Peran Strategis Industri Sawit dalam Perekonomian Indonesia yang Berkelanjutan

Penguatan rupiah didorong oleh beberapa faktor utama. Pertama, indeks dolar AS (DXY) terpantau terkoreksi seiring rebound pada mata uang Euro, yang secara tidak langsung memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang termasuk rupiah untuk menguat. Kedua, data inflasi dan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan telah mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan 27-28 Oktober mendatang.

Laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) AS bulan Agustus berada di bawah ekspektasi, sementara data ketenagakerjaan menunjukkan penambahan hanya 29.000 pekerjaan nonpertanian pada September, jauh di bawah perkiraan sekitar 90.000. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Oktober turun drastis menjadi sekitar 24 persen, dari sebelumnya 71 persen pada pekan lalu. Ketiga, yield US Treasury yang sempat bertahan di level tinggi sekitar 5,27 persen juga mulai menunjukkan tanda-tanda koreksi, yang mengurangi tekanan terhadap aset-aset berdenominasi dolar AS.

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari revisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia sebesar 0,5 poin persentase menjadi 5,2 persen untuk tahun 2026, yang ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, percepatan pengeluaran pemerintah, serta program-program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis. Namun, investor masih menantikan rilis data cadangan devisa (cadev) Indonesia periode September 2026 yang diperkirakan turun dari 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus menjadi sekitar 144 miliar dolar AS.

Kurs dolar AS di berbagai bank besar Indonesia pada hari tersebut juga mencerminkan pergerakan yang bervariasi. Meskipun data spesifik per bank tidak disebutkan secara rinci, secara umum harga jual dolar AS di bank-bank besar seperti BCA, BRI, Mandiri, dan BNI cenderung mengikuti pergerakan pasar dengan spread yang wajar. Bank Indonesia sendiri terus melakukan stabilisasi melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pengelolaan likuiditas untuk menjaga daya tarik aset rupiah di tengah tekanan global yang datang melalui beberapa kanal sekaligus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *