Di INACRAFT 2026, Kriya Berkelanjutan Jadi Tren Gaya Hidup Baru

INACRAFT

ASIAWORLDVIEW – INACRAFT (The Jakarta International Handicraft Trade Fair) terlihat berbeda dibandingkan sebelumnya. Terdapat perubahan pada industri kriya dari model linear menuju ekonomi sirkular, sebuah pendekatan yang menekankan efisiensi sumber daya, pengurangan limbah, dan penciptaan nilai tambah berlapis.

“Jika sebelumnya industri kriya cenderung berorientasi pada output semata—memproduksi sebanyak mungkin untuk memenuhi permintaan pasar—kini fokusnya bergeser pada bagaimana setiap tahap produksi dapat dimaksimalkan secara berkelanjutan,” sebut Poject Officer INACRAFT 2026, Syamsul Huda, dalam konferensi pers INACRAFT October 2026 Vol. 5–Youthpreneurs. Selasa (6/10/2026).

Pemanfaatan limbah sawit sebagai bahan lilin batik, misalnya, adalah contoh paling konkret dari value addition from waste. Bahan yang sebelumnya dianggap residu dan sering menjadi beban biaya lingkungan diubah menjadi input produksi bernilai tinggi.

“Langkah ini memperbaiki struktur biaya produsen batik karena bahan baku alternatif dapat menekan ketergantungan pada lilin impor atau bahan kimia yang harganya berfluktuasi. Efek lanjutannya adalah diversifikasi produk,” ia menambahkan.

Batik tidak lagi hanya soal motif dan kain, tetapi juga membawa narasi keberlanjutan yang memiliki nilai jual di pasar global, terutama bagi konsumen yang sensitif terhadap isu lingkungan dan sosial. Selain itu, pemanfaatan limbah sawit menciptakan keterkaitan antarsektor (backward linkage) antara industri kriya dan industri kelapa sawit, sehingga nilai tambah yang selama ini terkonsentrasi di sektor hulu dapat mengalir ke sektor hilir yang lebih padat karya.

Baca Juga: INACRAFT 2026 Dorong Ekonomi Kriya Lewat Teknologi dan Youthpreneurs

“Proses ini menurunkan jejak karbon dan volume limbah, yang pada akhirnya memperkuat legitimasi ekspor Indonesia di tengah regulasi ketat seperti EUDR dan tuntutan ESG dari buyer internasional,” ia menambahkan.

Modernisasi proses tenun serta pengembangan pengolahan keramik dan kayu juga memiliki implikasi ekonomi yang signifikan. Pada industri tenun, adopsi teknologi—baik berupa alat tenun yang lebih efisien, digitalisasi desain, maupun standardisasi proses pewarnaan—dapat meningkatkan konsistensi kualitas, mempercepat waktu produksi, dan memperbesar kapasitas output tanpa harus menambah jumlah tenaga kerja secara proporsional.

Akhirnya, produktivitas per tenaga kerja naik, biaya satuan turun, dan margin produsen membaik, sehingga produk kriya Indonesia lebih kompetitif baik dari sisi harga maupun non-harga (kualitas, desain, ketepatan waktu). Hal serupa berlaku untuk keramik dan kayu, termasuk pengolahan yang lebih modern memungkinkan pemanfaatan bahan secara lebih efisien, mengurangi waste rate, meningkatkan yield, dan membuka peluang produk bernilai tambah lebih tinggi, seperti keramik artistik, furnitur knock-down, atau komponen interior yang memenuhi standar ekspor.

Modernisasi juga memperkuat resiliensi rantai pasok karena produksi tidak lagi bergantung sepenuhnya pada keterampilan manual yang sulit diskalakan; teknologi memungkinkan transfer pengetahuan, dokumentasi proses, dan replikasi kualitas di berbagai sentra produksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *