Tak Hanya Pikirkan Cuan, PisAgro Usung Zero Waste

ASIAWORLDVIEW – Raoul Oberman selaku Dewan PISAgro menegaskan bahwa keberlanjutan sektor agribisnis, khususnya sawit, tidak dapat dilepaskan dari peran petani kecil sebagai aktor utama dalam rantai pasok. Produksi nasional sangat bergantung pada jutaan petani rakyat, namun posisi mereka sering kali lemah dalam hal akses teknologi, pembiayaan, informasi pasar, dan kelembagaan.

Akibatnya, produktivitas lahan petani kecil cenderung tertinggal dibandingkan perkebunan besar, kualitas hasil tidak konsisten, dan nilai tambah yang mereka terima tidak sebanding dengan kontribusi terhadap pasokan bahan baku industri hilir.

“Membangun keberlanjutan berarti memastikan petani memiliki akses terhadap teknologi, pembiayaan, dan pasar yang adil, sehingga mereka tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi bagian dari ekosistem industri yang produktif dan berdaya saing,” sebutnya di sela-sela forum Indonesia International Sustainability Forum (ISF), Selasa (6/10/2026).

“Ini adalah upaya memperbaiki struktur insentif dan tata kelola rantai pasok agar distribusi manfaat lebih adil, biaya transaksi lebih rendah, dan risiko usaha lebih terkelola,” ia menambahkan.

Baca Juga: Peran Strategis Industri Sawit dalam Perekonomian Indonesia yang Berkelanjutan

Menurut Raoul, keberlanjutan sawit harus dilihat dari tiga dimensi yang saling terkait: ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dari sisi ekonomi, pembinaan petani meningkatkan produktivitas dan pendapatan, sekaligus memperkuat ketahanan pasokan bahan baku industri hilir.

Ketika petani mampu meningkatkan hasil per hektare melalui bibit unggul, pemupukan yang tepat, dan praktik budidaya yang baik, produksi nasional naik tanpa harus membuka lahan baru; ini menurunkan tekanan deforestasi sekaligus menjaga stabilitas pasokan untuk pabrik minyak goreng, oleokimia, dan biodiesel. Dari sisi sosial, pemberdayaan petani menciptakan lapangan kerja, mengurangi kesenjangan, dan memperkuat komunitas pedesaan—sebuah dampak yang penting di daerah-daerah yang ekonominya bergantung pada sawit.

“Keberlanjutan bukan sekadar kewajiban moral, melainkan strategi ekonomi jangka panjang untuk memastikan industri tetap diterima pasar global, terutama di tengah regulasi ketat yang menuntut ketertelusuran asal-usul komoditas dan bukti bahwa produksi tidak terkait deforestasi,” ia menambahkan.

Raoul juga menekankan pentingnya kolaborasi multi-stakeholder antara pemerintah, perusahaan, koperasi, lembaga keuangan, dan masyarakat sipil. Jika ekosistem ini berjalan, petani dapat memperoleh akses pembiayaan yang selama ini terhambat oleh keterbatasan agunan dan riwayat kredit, perlindungan risiko melalui asuransi, serta kepastian pasar dengan harga yang lebih adil.

“Keberlanjutan bukan sekadar jargon, melainkan strategi jangka panjang untuk memastikan sawit tetap menjadi komoditas unggulan Indonesia yang diterima pasar global,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *