Rupiah Menguat, BI Ingatkan Tekanan Eksternal Masih Membayangi

Teller memegang uang Rupiah dan Dolar AS.

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menunjukkan penguatan signifikan pada Rabu (30/9/2026), setelah sehari sebelumnya sempat menembus level psikologis Rp18.000. Rupiah dibuka menguat 56 poin atau 0,31 persen ke level Rp17.925 per dolar AS, dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp17.981.

Data yang diterima Asia World View memperlihatkan penguatan lebih tajam, dengan rupiah naik 63 poin atau 0,35 persen ke Rp17.918 pada awal sesi, dan sempat menyentuh Rp17.912 atau menguat 0,38 persen. Penguatan ini menjadi angin segar setelah rupiah tertekan cukup dalam, meskipun secara year-to-date mata uang Garuda masih tercatat melemah sekitar 6,7 persen .

Penguatan rupiah hari ini ditopang oleh beberapa faktor utama. Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS dengan penurunan harga minyak dunia sebagai pendorong Utama.

Baca Juga: Rupiah Anjlok 0,42%, BI Siapkan Cadangan Devisa USD146,5 Miliar

Harga minyak mentah Brent turun 2,6 persen menjadi sekitar US$102 per barel, setelah Arab Saudi memulihkan sebagian pasokan melalui pipa minyaknya yang sempat terganggu . Penurunan harga minyak ini mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan menurunkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi Indonesia.

Selain itu, aksi ambil untung (profit-taking) dolar AS setelah penguatan signifikan dalam beberapa pekan terakhir juga memberikan ruang bagi rupiah untuk bangkit. Meskipun rupiah menguat hari ini, Bank Indonesia tetap mengingatkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar masih belum sepenuhnya mereda.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah sebelumnya dipicu oleh kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal, sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas USD108 per barel karena belum tercapainya kesepakatan pembukaan Selat Hormuz.

Faktor lain adalah ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS yang tercermin dari yield US Treasury tenor 10 tahun yang bertahan di level 5,23 persen—tertinggi sejak 2007. Peningkatan kebutuhan valuta asing oleh importir menjelang akhir kuartal III 2026 juga turut menekan rupiah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *