ASIAWORLDVIEW – Indonesia secara resmi meluncurkan aplikasi seluler baru bernama All Indonesia, yang dirancang untuk menyederhanakan prosedur masuk bagi wisatawan internasional. Inovasi digital untuk mempermudah dan mempercepat proses kedatangan wisatawan mancanegara maupun WNI yang kembali dari luar negeri.
Sebelumnya, penumpang internasional harus mengisi berbagai formulir terpisah untuk imigrasi, bea cukai, kesehatan, dan karantina, yang memakan waktu dan menimbulkan antrean panjang di bandara atau pelabuhan.
“Aplikasi ini akan memudahkan dan membuat pengunjung lebih nyaman menikmati keindahan alam dan kekayaan budaya Indonesia,” kata Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, dikutip Asiaworldview.com, Kamis (4/9/2025).
Dengan aplikasi ini, seluruh proses administrasi tersebut diintegrasikan dalam satu deklarasi digital yang bisa diisi hingga tiga hari sebelum kedatangan. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi, mengurangi birokrasi, dan menciptakan pengalaman masuk yang lebih nyaman, aman, dan modern, sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi wisata yang ramah dan adaptif terhadap teknologi.
Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk meningkatkan pengalaman kedatangan dan mempromosikan perjalanan yang lancar.
Baca Juga: Manfaatkan Krisis Iran-Israel, Indonesia Incar Wisatawan Asia dan Australia untuk Berkunjung
Aplikasi ini mengintegrasikan deklarasi kedatangan dari empat lembaga pemerintah: Imigrasi, Bea Cukai, Kesehatan, dan Karantina.
Aplikasi ini sudah tersedia untuk digunakan dan menjadi wajib mulai 1 September 2025 di tiga bandara internasional utama—Soekarno-Hatta (Banten, dekat Jakarta), Ngurah Rai (Bali), dan Juanda (Jawa Timur).
Aplikasi ini juga akan diwajibkan di enam pelabuhan internasional di Batam, Kepulauan Riau: Batam Center, Nongsa, Marina, Sekupang, Harbour Bay, dan Bengkong.
Wisatawan dapat mengisi formulir hingga tiga hari sebelum keberangkatan, baik dari negara asal maupun di bandara. Aplikasi ini juga memungkinkan pengguna untuk membayar visa on arrival, membantu mengurangi antrean dan keterlambatan di titik masuk.
Setelah formulir dikirimkan, wisatawan akan menerima kode QR, yang harus disimpan dan ditunjukkan di loket imigrasi atau bea cukai saat tiba di Indonesia.
Aplikasi ini mendukung program transformasi digital Tourism 5.0 pemerintah, yang bertujuan untuk meningkatkan pariwisata melalui teknologi.
“Ini menandai era baru bagi pariwisata Indonesia. Alat digital seperti ini akan membantu membuat industri kami lebih efisien, berkelanjutan, dan kompetitif secara global,” katanya..
