ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC) hari ini terpantau menguat tipis di tengah sentimen pasar kripto yang cenderung bervariasi. Berdasarkan data CoinMarketCap, Kamis (4/9/2025) pagi, Bitcoin naik sekitar 0,22% dalam 24 jam terakhir dan 0,23% dalam sepekan, diperdagangkan di kisaran USD 111.745 per koin atau setara Rp 1,84 miliar (asumsi kurs Rp 16.470 per dolar AS). Kenaikan ini terjadi meskipun volume perdagangan relatif datar, dengan dorongan lebih banyak berasal dari pembelian pasif ketimbang aksi beli agresif.
Sentimen positif didukung oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada pertemuan mendatang, yang biasanya menjadi katalis bagi aset berisiko seperti kripto. Namun, pelaku pasar tetap mencermati rilis data ekonomi AS, termasuk laporan tenaga kerja, yang dapat memengaruhi arah pergerakan harga dalam waktu dekat. Pergerakan ini terjadi di tengah meningkatnya optimisme pasar menjelang keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan pada 17 September mendatang.
Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat menyentuh US$112.500 usai pembukaan Wall Street, sebelum bergerak stabil di kisaran USD112.067. Aksi harga ini membuat BTC mempertahankan posisinya dalam dukungan bullish, sekaligus menegaskan level USD112.000 sebagai area likuiditas kunci di bursa.
Baca Juga: Bitcoin Naik Tipis ke USD110.000, Trader Pasang Taruhan Bullish untuk Akhir September
Data CoinGlass memperlihatkan bahwa sebagian besar likuiditas di area USD112.000 telah terserap, dengan target selanjutnya berada di USD114.000. Situasi ini menandakan adanya upaya pasar untuk merebut kembali support utama setelah sempat menyentuh titik terendah mingguan di USD107.270.
Meski pergerakan Bitcoin terlihat positif, bulan September historisnya dikenal sebagai periode yang menekan harga kripto terbesar dunia ini. Sejak 2013, Bitcoin mencatat penurunan pada delapan dari 12 periode September dengan rata-rata return –3,8%. Fenomena ini kerap dijuluki “Red September.”
Namun, pola historis tidak selalu berulang. Dalam dua tahun terakhir, Bitcoin justru mampu menutup September di zona hijau, termasuk capaian terbaik sepanjang sejarah pada 2024 dengan kenaikan 7,29%. Hal ini menimbulkan harapan bahwa tren negatif musiman bisa kembali dipatahkan pada 2025.
Secara global, periode ini sering bertepatan dengan pengetatan likuiditas setelah musim panas, rilis data ekonomi penting, serta keputusan suku bunga The Fed yang memicu volatilitas dan membuat investor lebih berhati-hati2. Di Indonesia, efeknya tercermin pada penurunan harga aset kripto populer seperti Bitcoin, Ethereum, dan altcoin besar lainnya, yang memengaruhi sentimen investor ritel maupun institusional.
Selain itu, akhir kuartal III mendorong aksi rebalancing portofolio dan profit-taking oleh manajer investasi, sehingga tekanan jual meningkat. Meski demikian, dalam dua tahun terakhir tren ini mulai bergeser, dengan dukungan arus dana institusional melalui ETF spot dan ekspektasi pemangkasan suku bunga yang berpotensi meredam dampak negatif “Red September” terhadap pasar kripto domestik.
