IHSG Anjlok 94 Poin ke 6.147, Asing Jual Rp1,13 Triliun

Memantau pergerakan IHSG.(freepik)

ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup merosot tajam 94,03 poin atau 1,51 persen ke level 6.147,86 pada Selasa (29/9/2026). Angka ini begerak setelah sepanjang hari bergerak di zona merah tanpa mampu bangkit dari tekanan jual yang membebani pasar.

Indeks LQ45 juga ikut tertekan, turun 9,30 poin atau 1,50 persen ke posisi 611,81, mencerminkan pelemahan yang merata di saham-saham unggulan. Sebanyak 532 saham turun, hanya 180 saham menguat, dan 81 saham stagnan, dengan nilai transaksi tercatat Rp12,58 triliun dari 37,37 miliar lembar saham yang diperdagangkan. Kapitalisasi pasar IHSG pada akhir perdagangan mencapai Rp10.782 triliun .

Faktor domestik yang paling dominan menekan IHSG hari ini adalah implementasi resmi kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menurunkan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar, yang mulai berlaku efektif pada Senin, 28 September 2026. Kebijakan ini memungkinkan saham-saham yang selama ini tertahan di level gocap (Rp50) untuk diperdagangkan pada harga yang jauh lebih rendah, dengan tujuan meningkatkan likuiditas dan kualitas price discovery.

Namun, pasar merespons kebijakan ini dengan kekhawatiran akan peningkatan volatilitas, terutama pada saham-saham berharga rendah yang kini memiliki ruang perdagangan yang lebih luas . Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa fase awal penerapan kebijakan ini berpotensi meningkatkan volatilitas, dan investor masih perlu beradaptasi dengan perubahan rentang harga serta mekanisme auto rejection.

Meskipun demikian, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa penurunan IHSG tidak dapat serta-merta dikaitkan dengan penghapusan batas minimum harga saham, karena saham-saham yang sebelumnya bertahan di level Rp50 memiliki bobot relatif kecil terhadap IHSG . Ia menambahkan bahwa BEI mencatat 69 saham diperdagangkan di bawah Rp50 pada hari pertama aturan baru, dan proses perdagangan berjalan dengan baik.

Baca Juga: Bank Indonesia Fokus Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Dolar AS Menguat

Sentimen global masih menjadi beban berat bagi IHSG. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di level tinggi, mendekati 5,17 persen, yang menimbulkan kekhawatiran tentang kondisi keuangan global yang lebih ketat dan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Presiden Fed Cleveland, Beth Hammack, menyatakan bahwa faktor-faktor tersebut bersamaan dengan kekhawatiran atas utang pemerintah, yang berkontribusi terhadap imbal hasil obligasi Treasury jangka panjang yang lebih tinggi.

Dari Timur Tengah, Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik dan berdampak pada harga minyak yang tetap tinggi . Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mencatat harga minyak pada 24 September 2026 telah mencapai **US$125,53 per barel**, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata Agustus 2026 di kisaran US$90,88 per barel . Tingginya harga minyak ini berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global dan memperburuk defisit transaksi berjalan Indonesia, yang pada gilirannya menambah tekanan terhadap rupiah dan pasar saham .

Nilai tukar rupiah turut tertekan tajam terhadap dolar AS, mengakhiri perdagangan di posisi Rp17.965 per dolar AS atau terdepresiasi 0,53 persen, hanya berjarak 35 poin dari level psikologis Rp18.000. Pelemahan rupiah terjadi ketika dolar AS kembali menguat terhadap berbagai mata uang dunia, dengan DXY kembali menembus level 101, didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Investor asing mencatatkan penjualan bersih jumbo sebesar Rp1,13 triliun di seluruh pasar, dengan Rp259,83 miliar di pasar reguler dan Rp871,03 miliar di pasar negosiasi dan tunai. Saham-saham yang paling banyak dilepas asing antara lain BMRI (Rp241,50 miliar), TLKM (Rp121,68 miliar), TINS (Rp41,15 miliar), ANTM (Rp31,97 miliar), dan MDKA (Rp26,58 miliar).

Dari sisi sektoral, sembilan dari sebelas sektor berada di zona merah, dengan sektor teknologi mencatat penurunan terbesar sebesar 4,18–4,48 persen, diikuti sektor barang baku turun 3,09–3,33 persen dan sektor barang konsumen non-primer turun 2,57–3,04 persen. Pelemahan sektor teknologi ini dipicu oleh PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang anjlok 14 persen ke Rp43, menjadikannya pemberat utama IHSG. Sementara itu, hanya sektor energi yang berhasil menguat tipis 0,04 persen, ditopang oleh saham-saham seperti AADI yang naik 3,33 persen dan MEDC yang menguat 3,10 persen . Saham-saham top gainers lainnya meliputi IATA (+3,30 persen) dan DOOH (+3,30 persen), sedangkan top losers dihuni oleh BKSL (-14,06 persen), MNCN (-13,24 persen), dan MSIN yang turun signifikan.

Dari perspektif teknikal, IHSG telah menembus area gap 6.185 serta support di kisaran 6.230–6.270, dan mengonfirmasi breakdown terhadap pola rising wedge dan neckline Head and Shoulders di level 6.375 . Indikator MACD masih menunjukkan momentum bearish dengan histogram yang melemah . Support terdekat berada di 6.110, kemudian 6.030, sedangkan resistance berada di 6.185, diikuti area 6.230–6.270 . Head of Research MNC Sekuritas memproyeksikan support di 6.124 dan resistance di 6.169, sementara Analis Investindo Nusantara Sekuritas memperkirakan support di 6.029 dan resistance di 6.328 .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *