Kesehatan Mental Masyarakat Terancam di Tengah Gejolak Sosial

Kondisi massa setelah aksi dibubarkan oleh polisi.

ASIAWORLDVIEW – Demonstrasi besar-besaran yang terjadi pada Agustus 2025 di Indonesia, khususnya di depan Gedung DPR RI, telah memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan mental masyarakat. Ribuan peserta aksi, mulai dari pelajar hingga pekerja informal, turun ke jalan sebagai bentuk pelampiasan atas tekanan sosial dan ekonomi yang menumpuk. Ketika saluran formal seperti audiensi publik dianggap tidak efektif, demonstrasi menjadi katarsis sosial yang mencerminkan akumulasi frustrasi kolektif.

Di sisi lain, paparan berita negatif yang intens dan berulang—baik dari media arus utama maupun media sosial—memicu fenomena yang disebut “headline stress disorder,” yaitu stres akibat terlalu sering terpapar informasi bernuansa ancaman. Emosi seperti marah, cemas, dan sedih menjadi reaksi umum, terutama bagi mereka yang sudah memiliki kekecewaan terhadap sistem.

Media sosial, dengan 143 juta pengguna aktif di Indonesia, turut memperkuat dampak ini sebagai ruang ekspresi emosional yang tak terarah. Kombinasi antara tekanan dari aksi fisik dan paparan digital menciptakan beban psikologis yang kompleks, yang jika tidak ditangani dengan baik, dapat berujung pada burnout, gangguan kecemasan, atau bahkan depresi.

Mengutip Psychology Today, Minggu (31/8/2025), otak manusia secara alami lebih cepat memproses informasi yang mengandung ancaman, membuat berita negatif lebih dominan dalam kesadaran kita. Akibatnya, individu bisa mengalami kesulitan berkonsentrasi, rasa putus asa, bahkan kelelahan mental.

“Tanpa disadari, kita mungkin sedang mengalami apa yang para psikolog sebut sebagai kelebihan paparan media, yaitu kondisi di mana otak dan emosi kita menjadi terlalu jenuh akibat paparan terus-menerus terhadap berita negatif dari berbagai platform, terutama media sosial,” kata Nur Islamiah, M.Psi., PhD, psikolog dari IPB University.

Baca Juga: Dampak Aksi Massa Agustus 2025: Guncangan Ekonomi hingga Pasar Finansial Tertekan

Menurutnya, fenomena ini bukan sekadar kebosanan sesaat. Paparan terus-menerus terhadap berita negatif menciptakan siklus stres psikologis, di mana semakin kita terpapar berita buruk, semakin besar rasa cemas yang kita rasakan, dan semakin sulit bagi pikiran kita untuk pulih dan tenang.

“Remaja dan dewasa muda adalah kelompok yang paling rentan, terutama karena konsumsi media sosial mereka cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lain,” jelasnya.

Fenomena ini telah menyebabkan sebagian orang secara sadar menghindari berita demi menjaga kesehatan mental mereka. Langkah utama adalah membatasi waktu konsumsi berita, misalnya dengan menetapkan jam tertentu untuk membaca informasi agar tidak terus-menerus terpapar konten yang memicu kecemasan.

Selain itu, memilih sumber informasi yang kredibel dan tidak sensasional sangat penting agar individu tidak terjebak dalam narasi yang menakutkan atau menyesatkan. Menyeimbangkan paparan media dengan aktivitas yang menenangkan—seperti meditasi, olahraga ringan, membaca buku non-berita, atau menghabiskan waktu di alam terbuka—juga terbukti efektif dalam meredakan stres dan menjaga keseimbangan emosional.

“Dengan begitu, kita memberi ruang bagi pikiran kita untuk bernafas di tengah arus informasi yang cepat dan tidak selalu ramah bagi jiwa,” ia menambahkan.