ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan lebih lanjut, pada Jumat (25/9/2026), dengan level pembukaan di kisaran Rp17.935 per dolar AS. Angkanya turun sekitar 0,11 persen atau 19 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp17.916.
Pergerakan ini menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia pada awal perdagangan hari tersebut. Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari tren negatif yang berlangsung sejak awal pekan, di mana pada Kamis, 24 September, rupiah sudah ditutup melemah 98 poin atau 0,55 persen ke level Rp17.916.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia tercatat di Rp17.893. Tekanan terhadap rupiah ini terjadi di tengah penguatan dolar AS yang dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve, seiring dengan data ekonomi Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan, khususnya pertumbuhan sektor manufaktur yang tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) AS.
Baca Juga: Rekening Bank Gratis untuk Warga 17+ Tidak Diluncurkan Tahun Ini
Dalam konteks perbankan domestik, kurs dolar AS di berbagai bank besar Indonesia pada hari tersebut bervariasi. Bank Central Asia (BCA) menetapkan harga jual dolar AS sebesar Rp17.940 berdasarkan e-rate, sementara Bank Rakyat Indonesia (BRI) mematok harga jual Rp17.889. Bank Mandiri menetapkan harga jual special rate di Rp17.940, dan Bank Negara Indonesia (BNI) menawarkan harga jual tertinggi di antara bank-bank tersebut, yaitu mencapai Rp18.085 untuk bank notes.
Rentang pergerakan rupiah sepanjang hari diperkirakan berada di kisaran Rp17.875 hingga Rp17.975 per dolar AS, dengan kecenderungan melemah yang masih berlanjut. Secara kumulatif, dalam sepekan terakhir rupiah telah tertekan sekitar 1,43 persen, dan dibandingkan 30 hari sebelumnya melemah sekitar 1,07 persen, meskipun jika dilihat dalam rentang satu tahun, posisi saat ini masih lebih baik dibandingkan rekor terendah yang pernah menyentuh Rp18.175 per dolar AS.
Faktor utama yang menekan rupiah adalah kombinasi dari faktor eksternal yang saling memperkuat. Ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve kembali menguat setelah data PMI AS menunjukkan ekspansi yang solid, yang mendorong penguatan indeks dolar AS ke kisaran 101,12-101,14.
Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran turut meningkatkan harga minyak dunia, yang berpotensi menambah tekanan inflasi global dan memperkuat daya tarik aset-aset dolar AS. Imbal hasil obligasi Treasury AS jangka panjang yang terus menembus level tertinggi multi-tahun membuat aset-aset berdenominasi dolar AS semakin menarik bagi investor global.
Kondisi tersebut memicu arus modal keluar dari pasar emerging termasuk Indonesia. Dalam menghadapi tekanan ini, Bank Indonesia telah menyatakan komitmennya untuk mengoptimalkan seluruh instrumen moneter guna menjaga stabilitas rupiah, termasuk intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta memperluas kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing.
Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan bahwa ke depan rupiah diperkirakan akan bergerak stabil dengan dukungan komitmen BI, imbal hasil yang menarik, inflasi yang terkendali dalam sasaran, serta prospek perekonomian domestik yang tetap baik.

