ASIAWORLDVIEW – Startup di Indonesia terus menunjukkan perkembangan pesat dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional. Pertumbuhan ekosistem startup tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga mendorong inovasi di berbagai sektor seperti teknologi finansial, kesehatan digital, pendidikan berbasis platform, hingga agritech. Kehadiran startup membantu memperluas akses masyarakat terhadap layanan yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus meningkatkan efisiensi bisnis tradisional melalui digitalisasi.
Melalui taklimat media tahun ini, Herdian Mohammed selaku Vice President & Country Director Wadhwani Foundation Indonesia menjelaskan pada Selasa (22/9/2026), Wadhwani Foundation menegaskan posisinya sebagai mitra strategis dalam membangun ekonomi digital Indonesia. Ia menjelaskan, startup berperan dalam memperkuat daya saing Indonesia di era ekonomi digital dengan menarik investasi asing, memperluas pasar domestik, dan menciptakan multiplier effect yang menggerakkan rantai nilai industri.
“Startup juga menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas, keterampilan digital, dan jiwa kewirausahaan, sehingga bonus demografi dapat dimanfaatkan secara optimal,” ia mengatakan.
Baca Juga: Bicara di Dentons Shenzhen, Maulana Wiga Tekankan Pentingnya Adaptasi Teknologi Startup
Dengan dukungan regulasi pemerintah, kolaborasi dengan sektor swasta, serta akses pendanaan yang semakin terbuka, perkembangan startup di Indonesia berpotensi menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Apalagi Indonesia memiliki pasar digital besar, populasi muda yang produktif, dan gelombang adopsi teknologi yang cepat. Namun, pasar yang besar tidak otomatis melahirkan produsen inovasi. Banyak negara berkembang terjebak sebagai konsumen teknologi global, sementara nilai tambah terbesar dinikmati oleh perusahaan-perusahaan di luar negeri. Di sinilah Wadhwani Foundation mencoba masuk.
“Melalui Wadhwani Entrepreneurship Network (WEN), lembaga ini mendorong lahirnya startup yang tangguh, inovatif, dan mampu bersaing di pasar global dengan memanfaatkan teknologi cerdas. Fokusnya bukan hanya menambah jumlah startup, tetapi memastikan startup tersebut memiliki model bisnis yang sehat, skalabilitas yang jelas, dan daya saing yang berkelanjutan,” ia menambahkan.
Organisasi ini berperan sebagai jembatan antara ide dan pasar. Startup yang tumbuh dalam ekosistem ini diarahkan untuk tidak hanya mengejar pendanaan, tetapi juga membangun produk yang benar-benar menjawab kebutuhan konsumen. Teknologi cerdas, dalam kerangka ini, bukan tujuan akhir.
“Kita menawarkan untuk menciptakan efisiensi, memperluas akses, dan membuka peluang pasar baru. Startup yang lahir dari pendekatan ini diharapkan mampu bersaing tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga regional dan global. Jadi, Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk teknologi asing, tetapi juga pemain yang aktif dalam rantai nilai inovasi dunia,” jelasnya.
Di sisi lain, Wadhwani Foundation menyadari bahwa startup tidak bisa tumbuh tanpa talenta yang memadai. Karena itu, mereka mengembangkan Wadhwani Skilling Network (WSN). Fokus WSN adalah pengembangan keterampilan tenaga kerja agar sesuai dengan kebutuhan industri modern.
“Ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan upaya menyelaraskan kurikulum, kebutuhan industri, dan perubahan teknologi yang cepat. Talenta lokal didorong tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan. Dalam dunia kerja yang semakin dinamis, kemampuan untuk belajar ulang dan menguasai keterampilan baru menjadi nilai tambah yang menentukan,” pungkasnya.
