Sambut Etta The Place, Hotel dan Restoran yang Jadi Pusat Kehidupan Lokal

ASIAWORLDVIEW – Selalu ada hal yang baru di Bali, menaik perahatian wisatawan. Adalah Etta The Place, bukan sekadar hotel, bukan pula sekadar restoran, tapi seolah menjadi pusat ekosistem.

Etta adalah tempat yang menempatkan dirinya sebagai urat nadi lingkungan—sebuah rumah kedua bagi warga sekitar, sekaligus persinggahan bagi pelancong yang ingin merasakan denyut kehidupan lokal. Digagas oleh Gibran Baydoun, founder BYGB Studio dan That’s Proper Hospitality Group (Lucali BYGB, Corduroy Palace, Proper Slice BYGB),

Etta dibangun dengan keyakinan bahwa tempat yang baik lahir dari manusia dan kehangatan, bukan dari kemewahan yang berjarak. Nama Etta diambil dari nenek Baydoun, Ruth Etta Collins, yang percaya bahwa cara seseorang memberi makan adalah cara ia mencintai, dan bahwa Tuhan ada dalam detail. Nama itu juga berarti “penguasa rumah”, dan seluruh bangunan ini berjalan di atas keyakinan tersebut. Etta ingin mengembalikan kata “lifestyle” pada kehidupan itu sendiri: menciptakan hub yang terbuka langsung ke jalan, tempat tetangga yang tinggal tiga menit jauhnya dan tamu yang baru check-in sore ini bisa berakhir duduk di meja yang sama.

Orang-orang berjalan dari pantai karena mencium aroma atau mendengar suara yang menggoda, lalu tinggal karena ruangannya punya denyut. Filosofinya sederhana: cara Anda menjamu adalah cara orang mengingat Anda. Etta mengambil energi jalanan New York atau Paris—di mana orang-orang menarik bertabrakan—dan meletakkannya di tepi ombak. Sebuah tempat hanyalah orang-orangnya, dan Etta membotolkan itu lalu menyerahkannya kepada Anda bersama sebuah minuman. Di balik kesenangan itu, ada niat yang jelas.

Baca Jugaa: Berkunjung ke La Réserve 1785 di Jantung Pererenan, Suaka Romantis Khusus Dewasa di Bali

Etta berjalan dengan prinsip software over hardware: kehangatan dan perhatian manusia menggantikan marmer dan lampu gantung. Pemrograman berjalan sepanjang minggu, dari klub pengamat burung dan masterclass soju, mahjong yang ramai, disko vinil, hingga troli martini yang mendefinisikan ulang turndown service. Tidak ada velvet rope atau eksklusivitas performatif. Begitu Anda masuk, Anda diterima, dan dibangun agar Anda merasa dikenal sepanjang waktu.

Didesain oleh Gibran Baydoun, interior Etta menarik inspirasi dari sinema 90-an dan rumah townhouse Mies van der Rohe milik neneknya di Detroit, yang dibeli dari salah satu anggota The Four Tops. Sofa kulit celadon, lantai bata, dan kerai krom milik sang nenek mengilhami ruang yang postmodern, whimsical, dan terbuka pada nuansa pantai. Keramik hijau celadon di lantai dasar memanjat ke burgundy pekat di atasnya, dipadukan dengan gabus daur ulang, glass block, krom, burl wood, dan bata Bali.

Furnitur custom karya STVMP, Mahardika Design, Foolniture, dan Bothwell duduk berdampingan dengan kain Indonesia vintage. Seragam dan tekstil oleh Alami Studio bergabung dengan pelapis tenun tangan Nusa Penida, sementara Sungai Design mempres plastik sungai menjadi lantai bar dan ubin perapian. Diselesaikan dengan seni kain perca karya Kde Bahari, ruangnya terasa abadi, memberi hormat pada Malibu, Montauk, dan Medewi sekaligus.

Ekosistem makanan dan minuman dibuka lebih dulu, mendahului kamar hotel, di bawah Executive Chef Ashlee Malligan (ex Bacchanalia, Restaurant Nouri Singapore). Win Win adalah jantung tempat ini: restoran sungguhan di malam hari, luncheonette di siang hari. Makan malam debut lebih dulu, lilin dinyalakan untuk menu New York 90-an: ayam rotisserie, menara raw bar, martini yang layak diperdebatkan, dan dinding kulkas wine yang disortir berdasarkan tingkatan harga agar tamu memilih sendiri. Di siang hari, ia menyajikan pastrami asli, corned beef, sub Italia, bagel, dan sup yang enak. Namanya diambil dari keyakinan bahwa ketika Anda berada di tempat yang seharusnya, bersama orang yang seharusnya, Anda adalah pemenang.

Legacy Fine Roasters & Creamery adalah jendela kopi menghadap jalan yang diselubungi glass block, menuangkan kopi Amerika kuat dan canned cold brew di siang hari, bersama soft serve dengan taburan sprinkles yang tidak bisa ditawar. DJ kadang mengatur peralatan di jendela pada jadwal yang tidak terduga, dan kopi datang dalam kaleng baja yang Anda simpan di meja jauh setelah kosong.

Sementara, Chez Kiki adalah rooftop poolside yang melingkari kolam di atas Berawa Beach, ditata dengan ubin oranye, detail papan catur, dan payung berenda. Menyajikan agave slushies, magnum rosé, boozy Jell-O shots, tostadas tepi pantai, spritz yang tidak bisa Anda lewatkan, dan kamera sekali pakai—perpaduan kolam publik Eropa dengan Slim Aarons Palm Springs.

Kamar hotelnya akan debut akhir 2026: 15 kamar yang fokus pada kenyamanan analog dan hospitality berskala manusia. Dinamai sesuai nama ibu-ibu yang mereka kenal, setiap kamar memiliki booth diner korduroi built-in dan memprioritaskan koneksi genuine di atas layar, dengan televisi hanya tersedia atas permintaan untuk malam film. Ruangannya dilengkapi private full bar, mini bar custom gratis, radio gaya vintage, dan tumpukan buku kurasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *