ASIAWORLDVIEW – Data mengenai gaya hidup masyarakat Indonesia memberi gambaran yang cukup mengkhawatirkan. Tercatat 47,5% masyarakat Indonesia mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali dalam sehari. Namun 95,6% masyarakat menyikat gigi setiap hari, hanya 6,2% yang melakukannya di waktu yang tepat.
Dr. drg. A. Tajrin, M.Kes., Sp.B.M.M., Subsp.C.O.M(K), Ketua Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMPI), menjelaskan pada Kamis (17/9/2026), bahwa menjaga keseimbangan microbiome mulut dapat dilakukan dengan langkah-langkah yang sebenarnya tidak terlalu rumit. Namun menuntut konsistensi.
“Pesan yang ingin disampaikan bukanlah tentang larangan atau ketakutan, melainkan tentang kesadaran. Kesehatan gigi dan mulut bukanlah urusan yang bisa diselesaikan dalam satu kali kunjungan ke dokter, juga bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Ia adalah hasil dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari,” ia mengatakan.
Bahkan saat mengalami masalah gigi dan mulut, hanya 11,2% masyarakat yang mencari tenaga medis gigi dalam satu tahun. Berbagai faktor inilah yang antara lain menyebabkan 57% penduduk Indonesia usia 3 tahun ke atas masih mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas; ia berbicara tentang kebiasaan sehari-hari yang perlahan membentuk kondisi kesehatan jangka panjang. Konsumsi gula yang terlalu sering, misalnya, dapat membuat bakteri di mulut menghasilkan asam secara berulang, sehingga lingkungan rongga mulut menjadi semakin asam dan menyebabkan demineralisasi enamel—proses yang berujung pada terbentuknya karies.
Baca Juga: Pemeriksaan Gigi Rutin Jadi Kunci Kesehatan Anak
Pertama, menjaga kebersihan gigi dan mulut melalui perawatan yang tepat—bukan hanya menyikat gigi, tetapi juga memastikan waktu dan tekniknya benar. Kedua, membatasi konsumsi gula, karena gula adalah bahan bakar utama bagi bakteri penyebab kerusakan gigi. Ketiga, memperbanyak makanan bergizi dan kaya serat, serta mencukupi kebutuhan cairan untuk mendukung produksi dan fungsi air liur sebagai pertahanan alami rongga mulut. Air liur bukan sekadar cairan biasa; ia mengandung enzim dan mineral yang membantu menetralkan asam serta memperkuat enamel. Keempat, menghindari rokok, mengelola stres, dan mencukupi waktu tidur—tiga faktor yang sering diabaikan padahal berpengaruh besar terhadap keseimbangan mikroba di dalam tubuh. Dan yang tidak kalah penting, rutin berkonsultasi ke dokter gigi setidaknya enam bulan sekali, agar berbagai permasalahan yang dapat mengganggu keseimbangan microbiome mulut dapat dideteksi dan ditangani sejak dini.
Perubahan komunitas bakteri di sekitar garis gusi juga dapat memicu respons inflamasi tubuh, yang bila dibiarkan dapat berkembang dari gingivitis menjadi periodontitis. Sementara itu, bau mulut berkaitan erat dengan aktivitas bakteri yang memecah berbagai substrat di rongga mulut dan menghasilkan senyawa sulfur volatil yang memiliki aroma tidak sedap.
Selain itu, memilih air putih dibanding minuman manis, menyikat gigi di waktu yang tepat, makan makanan yang mendukung pertumbuhan bakteri baik, dan tidak menunda untuk memeriksakan diri. Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat dan penuh godaan rasa manis, menjaga keseimbangan microbiome mulut mungkin terdengar seperti konsep yang ilmiah dan jauh dari keseharian.
Padahal, bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, tanpa perlu peralatan mahal atau prosedur rumit. Hal yang dibutuhkan hanyalah kesadaran bahwa mulut yang sehat bukan hanya soal senyum yang indah, tetapi juga pintu masuk bagi kesehatan tubuh secara menyeluruh.
