Bitcoin Berhasil Bangkit di Tengah Pergerakan yang Sangat Volatil

Bitcoin

ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan pergerakan yang sangat volatil namun berhasil bangkit dari titik terendahnya pada Kamis (17/9/2026). Kondisi ini mencerminkan upaya pasar untuk mencerna badai kebijakan moneter dan regulasi yang menghantam dalam waktu bersamaan.

Berdasarkan data dari berbagai platform, Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD76.100 hingga US$76.400 pada sesi Asia, dengan penguatan sekitar 0,36% hingga 0,73% dalam 24 jam terakhir. Sepanjang pekan, harga BTC masih tercatat turun sekitar 2,53% hingga 4%, menyisakan bekas koreksi tajam yang dimulai sejak akhir pekan sebelumnya.

Pergerakan ini terjadi setelah Bitcoin sempat menyentuh titik terendah harian di USD75.351 pada awal perdagangan, sebelum akhirnya berhasil memantul kembali ke atas level USD76.000. Kapitalisasi pasar Bitcoin berada di sekitar USD1,52 triliun, sementara Indeks Fear & Greed bertahan di level 50 (Netral), turun satu poin dari hari sebelumnya, mencerminkan hilangnya euforia namun juga meredanya kepanikan.

Pemicu utama volatilitas: Keputusan The Fed dan ambruknya Clarity Act. Pada Rabu, 16 September 2026, Federal Reserve secara resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00%—kenaikan pertama sejak 2023 di bawah kepemimpinan baru Ketua The Fed, Kevin Warsh. Keputusan ini sebenarnya telah diantisipasi pasar dengan probabilitas mencapai 91–92%, sehingga tidak mengejutkan.

Baca Juga: Harga Bitcoin Bertahan Jelang Pemungutan Suara CLARITY Act

Dot plot yang jauh lebih hawkish dari perkiraan: 16 dari 18 pejabat yang memberikan proyeksi memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi pada tahun 2026, dibandingkan hanya delapan pejabat pada Juni lalu. Warsh juga menegaskan bahwa ekonomi masih kuat, lapangan kerja mendekati kesempatan penuh, dan inflasi “terlalu tinggi dan sudah terlalu lama tinggi”. Pasar kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga lagi pada Oktober mendekati 50%, yang berarti era suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dari yang diharapkan.

Namun, pukulan kedua datang dari Senat AS yang gagal meloloskan Clarity Act—rancangan undang-undang yang bertujuan membentuk kerangka regulasi komprehensif bagi aset digital. Pemungutan suara prosedural (cloture motion) pada Selasa, 15 September, hanya menghasilkan 49 suara mendukung dan 50 menolak, jauh dari ambang batas 60 suara yang dibutuhkan. Kegagalan ini terjadi karena empat senator dari Partai Republik berbalik arah dan bergabung dengan seluruh senator Demokrat dalam menolak rancangan tersebut. Dampaknya langsung terasa: saham Coinbase merosot 10%, Circle turun lebih dari 10%, dan Strategy (MicroStrategy) turun 5%. Polymarket bahkan menunjukkan peluang Clarity Act menjadi undang-undang pada 2026 anjlok dari sekitar 30% menjadi satu digit persen. Kombinasi kedua faktor ini menciptakan lingkungan yang sangat tidak bersahabat bagi aset berisiko seperti Bitcoin.

Reaksi pasar: “Sell the rumor, buy the news” yang tidak sempurna. Meskipun secara teoritis keputusan The Fed yang sudah diantisipasi dapat memicu relief rally—karena ketidakpastian telah terangkat—kenyataannya pasar tidak sepenuhnya pulih. Bitcoin sempat jatuh ke USD75.064 sebelum akhirnya bangkit ke USD76.342, dengan kenaikan 24 jam sebesar 0,71%. Namun, analis mencatat bahwa ETF Bitcoin spot AS justru mencatat arus keluar bersih sebesar USD450,3 juta—arus keluar harian terbesar sejak 25 Juni 2026—sementara ETF Ethereum mencatat outflow USD141 juta.

Data dari Glassnode juga menunjukkan bahwa arus modal baru on-chain terhenti dan pasokan stablecoin datar, menandakan bahwa masalahnya bukan hanya tekanan makro, tetapi juga kurangnya modal segar yang masuk ke pasar. Dengan kata lain, rebound yang terjadi lebih didorong oleh short covering dan pembelian teknis di level support, bukan oleh permintaan institusional yang kuat.

Data CryptoQuant juga menunjukkan bahwa arus masuk Bitcoin dari pemegang jangka pendek (short-term holders) ke bursa melonjak dari sekitar 19.400 BTC menjadi 33.100 BTC, dengan sekitar 23.200 BTC di antaranya berada dalam posisi merugi—sinyal bahwa tekanan jual akibat stop-loss masih meningkat. Pada grafik harian, RSI 14 berada di 50,2 (netral), sementara MACD masih dalam susunan bearish dengan histogram yang mulai menyempit, menunjukkan momentum turun yang melemah tetapi belum berbalik. Level US$76.500–US$78.000 menjadi zona resistensi pertama yang harus ditembus untuk membuka potensi pemulihan lebih lanjut, sementara US$75.000 tetap menjadi garis pertahanan krusial yang harus dipertahankan.

Ke depan, arah Bitcoin sangat bergantung pada dua faktor utama. Pertama, data ekonomi AS yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan, terutama laporan inflasi dan ketenagakerjaan, yang akan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga berikutnya. Jika data menunjukkan pelemahan ekonomi, ekspektasi kenaikan suku bunga bisa mereda dan memberikan ruang bagi Bitcoin untuk rebound lebih kuat. Kedua, perkembangan regulasi kripto di AS, termasuk apakah Clarity Act akan dihidupkan kembali atau apakah ada jalur legislatif alternatif yang bisa memberikan kejelasan bagi industri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *