Rupiah Bergerak Tipis di Tengah Tekanan Global

Teller bank memegang uang Rupiah dan Dolar AS.

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak dalam pola yang penuh gejolak pada Selasa (15/9/2026). Fluktuasi tipis yang mencerminkan tarik-menarik antara sentimen positif domestik dan tekanan eksternal yang masih pekat. Berbagai platform data menunjukkan angka pembukaan yang bervariasi, namun semuanya mengonfirmasi bahwa rupiah bergerak di kisaran Rp17.650 hingga Rp17.676 per dolar AS pada awal sesi.

Rupiah dibuka di level Rp17.668, menguat tipis 1 poin atau 0,01% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.669. Sementara itu, data Refinitiv menunjukkan rupiah justru melemah 0,06% ke Rp17.650 per dolar AS pada pukul 09.00 WIB.

Sentimen domestik menjadi faktor utama yang menopang rupiah pada awal perdagangan. Pelantikan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (14/9) memicu ekspektasi positif dari pelaku pasar. Usai dilantik, Suahasil menegaskan fokus utamanya adalah menjaga kesehatan dan kredibilitas APBN agar tetap mampu membiayai program prioritas pemerintah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Pernyataan ini memberikan sinyal stabilitas fiskal yang menjadi kunci bagi investor asing dalam mengambil keputusan.

Baca Juga: Purbaya Mendadak Dicopot dari Posisi Menteri Keuangan, Apa Alasannya?

Namun, ruang penguatan rupiah sangat terbatas karena tekanan eksternal yang masih dominan. Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan terhadap Arab Saudi pada Senin (14/9). Serangan ini mendorong harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 5% hingga mencapai US$109,80 per barel. Kenaikan harga energi yang tajam ini memicu kekhawatiran inflasi global.

Kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau menguat 0,20% ke posisi 99,588. Selain itu, Arab Saudi dilaporkan menutup jalur pipa utama yang digunakan untuk menghindari Selat Hormuz, sementara jalur menuju Laut Merah juga menghadapi ancaman, semakin memperbesar risiko gangguan pasokan energi global.

Ketidakpastian kebijakan moneter juga menjadi faktor yang menahan pergerakan rupiah. Pasar sedang menantikan hasil rapat FOMC The Federal Reserve yang berlangsung pada 15-16 September 2026. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pasar memperhitungkan peluang sekitar 90% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan ini, meningkat tajam dari ekspektasi sebelumnya. Kenaikan suku bunga AS akan memperlebar selisih imbal hasil dengan Indonesia, yang berpotensi mendorong arus modal keluar dari pasar domestik. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya, menciptakan divergensi kebijakan yang membatasi daya tarik aset rupiah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *