Bitcoin Bangkit di Tengah Tekanan Global

Bitcoin

ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC) pada Selasa (15/9/2026), menunjukkan dinamika yang menarik di tengah badai ketidakpastian makroekonomi global. Setelah sempat terpuruk di bawah level USD76.000 pada awal pekan, BTC berhasil bangkit dan diperdagangkan di kisaran USD77.800 hingga USD78.200.

Kondisi ini mencerminkan upaya kuat dari para pembeli untuk mempertahankan zona support krusial. Berdasarkan data dari berbagai platform, harga BTC tercatat naik sekitar 1,77% dalam 24 jam ke level USD78.205,7. Sementara itu, Tokocrypto melaporkan harga yang sedikit lebih rendah di USD77.866,32 dengan kenaikan 0,24%, dan data dari Gate menunjukkan BTC berada di USD77.952 dengan penguatan 1,54%.

Kapitalisasi pasar Bitcoin berada di sekitar USD1,56 triliun, dengan volume perdagangan 24 jam yang cukup besar mencapai USD28,79 miliar, menandakan bahwa minat terhadap aset kripto terbesar ini masih terjaga di tengah gejolak pasar.

Pergerakan harga Bitcoin pada hari itu sangat dipengaruhi oleh dua peristiwa besar yang sedang berlangsung secara bersamaan: rapat kebijakan moneter Federal Reserve (FOMC) dan voting prosedural undang-undang CLARITY Act di Senat Amerika Serikat. Pasar derivatif menunjukkan ekspektasi yang sangat tinggi terhadap kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin, dengan probabilitas mencapai 92% menurut CME FedWatch Tool.

Baca Juga: Harga Bitcoin Bertahan Jelang Pemungutan Suara CLARITY Act

Ekspektasi ini muncul setelah data inflasi (CPI) AS untuk bulan Agustus dirilis lebih tinggi dari perkiraan, memicu kekhawatiran bahwa The Fed akan mengambil langkah agresif untuk menekan inflasi. Rapat FOMC dua hari yang dimulai pada 15 September menjadi momen penentu yang ditunggu-tunggu pasar, dengan keputusan suku bunga dan konferensi pers Ketua The Fed pada 16 September sebagai katalis utama yang akan menentukan arah pergerakan Bitcoin selanjutnya.

Di sisi lain, sentimen positif datang dari Senat AS yang menggelar voting prosedural (motion to proceed) untuk CLARITY Act pada pukul 14:15 waktu setempat. Undang-undang ini merupakan rancangan regulasi pasar kripto yang komprehensif, yang akan membagi pengawasan aset digital antara SEC (untuk sekuritas) dan CFTC (untuk komoditas digital spot). Meskipun masih terdapat perbedaan pendapat antara Partai Republik dan Demokrat terkait klausul etika dan imbal hasil stablecoin, kemajuan pembahasan ini meningkatkan harapan pasar akan kejelasan regulasi di AS. Probabilitas CLARITY Act disahkan pada 2026 sempat melonjak dari sekitar 12% menjadi 30% di platform prediksi Polymarket, mencerminkan optimisme yang tumbuh di kalangan pelaku pasar.

Namun, tekanan dari pasar global tidak bisa diabaikan. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menembus level 5% secara intraday, sementara tenor 30 tahun naik ke sekitar 5,37%. Kenaikan yield ini membuat aset berisiko seperti Bitcoin menjadi kurang menarik dibandingkan obligasi pemerintah yang menawarkan imbal hasil tinggi dengan risiko lebih rendah. Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah sempat mendorong harga minyak mentah Brent mendekati USD110 per barel, meskipun kemudian mereda setelah Presiden Trump menyatakan sikap yang lebih positif terhadap negosiasi dengan Iran. Di pasar saham AS, indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 0,48% dan 0,56%, sementara indeks semikonduktor Philadelphia anjlok 5,9% akibat kekhawatiran atas perlambatan belanja modal di sektor AI.

Bitcoin berhasil mempertahankan level support krusial di USD76.500–USD77.000, yang juga bertepatan dengan level Fibonacci retracement 23,6%. Harga bergerak di atas semua moving average utama (50, 100, dan 200 periode) pada grafik harian, memberikan fondasi teknikal yang solid untuk potensi rebound lebih lanjut. Namun, analis juga mencatat adanya divergensi bearish pada grafik mingguan, di mana harga membentuk higher low sementara RSI justru membentuk higher high—sebuah sinyal peringatan yang perlu dicermati. Level resistance utama berada di USD79.000–USD80.000, dan jika BTC mampu menembus level ini dengan volume yang kuat, target berikutnya adalah USD82.300 (puncak Agustus).

Dari sisi data on-chain dan sentimen pasar, Indeks Fear & Greed naik ke level 69 (zona “Greed”), naik signifikan dari 57 pada hari sebelumnya. Namun, analis dari Santiment memperingatkan bahwa pasar telah beralih ke mode “chasing” (mengejar), dengan dompet whale (pemegang besar) justru mengurangi posisi mereka—sebuah tanda potensi overheating jangka pendek. Total likuidasi posisi short dalam 12 jam terakhir mencapai sekitar USD178 juta, menunjukkan bahwa rebound ini juga didorong oleh aksi short covering yang memperkuat momentum naik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *