Pemerintah Pertahankan Harga BBM Bersubsidi di Tengah Lonjakan Harga Minyak

Port pengisian BBM atau Bahan Bakar Minyak Pertamina.

ASIAWORLDVIEW – Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa harga BBM bersubsidi akan tetap dipertahankan. Keputusan itu diambil di tengah harga minyak mentah dunia terus mengalami kenaikan. Keputusan ini diambil atas arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Hingga hari ini, pemerintah telah memutuskan untuk mempertahankan harga bahan bakar bersubsidi tanpa kenaikan apa pun,” kata Menteri Bahlil di Jakarta.

Pertalite tetap dijual di harga Rp10.000 per liter dan Solar di Rp6.800 per liter, meski rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) sudah jauh melampaui asumsi APBN 2026. Tujuan utama menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah hingga menengah.

“Presiden Prabowo meyakini bahwa melindungi dan mempertahankan daya beli warga berpenghasilan rendah hingga menengah jauh lebih penting,” tia menambahkan.

Baca Juga: Subsidi BBM Membengkak, Pemerintah Hitung Dampaknya

Keputusan ini diambil di tengah harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang saat ini berkisar antara USD106 hingga USD108 per barel, jauh di atas asumsi USD70 per barel yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Bahlil mencatat bahwa rata-rata ICP dari Januari hingga September 2026 berkisar antara USD85 hingga USD90 per barel. Untuk meredam kenaikan biaya tersebut, ia mengatakan bahwa peningkatan alokasi subsidi nasional tetap menjadi opsi yang layak.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, pemerintah mengalokasikan Rp210,1 triliun (sekitar US$11,94 miliar) untuk subsidi energi, sementara total subsidi energi dan paket kompensasi mencapai Rp381,3 triliun (sekitar US$21,66 miliar).

Bahlil mengakui bahwa kebijakan ini menimbulkan tekanan besar terhadap APBN 2026, karena subsidi energi dan kompensasi harus ditingkatkan untuk menutup selisih harga. Pemerintah telah mengalokasikan Rp210,1 triliun untuk subsidi energi, sementara total subsidi dan kompensasi mencapai Rp381,3 triliun. Hingga semester pertama, realisasi belanja subsidi sudah naik 44,4 persen dibanding tahun sebelumnya, didorong oleh fluktuasi harga minyak dan konsumsi BBM yang meningkat 7,8 persen.

Untuk menjaga keberlanjutan fiskal, pemerintah juga sedang menyelesaikan validasi data agar konsumsi Pertalite bersubsidi lebih tepat sasaran, dengan membatasi akses bagi rumah tangga berpenghasilan tinggi. Dengan demikian, kebijakan mempertahankan harga BBM bersubsidi ini bukan hanya soal stabilitas harga, tetapi juga strategi menjaga keseimbangan antara daya beli masyarakat dan ketahanan fiskal negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *