ASIAWORLDVIEW – Tak terasa, satu satu dekade setelah “Ada Apa dengan Cinta?” sekuelnya menghiasi layar lebar dan meninggalkan jejak nostalgia bagi generasi yang tumbuh bersama Cinta dan Rangga. Tak mau ketinggalan, Royco menghadirkan kelanjutan perjalanan itu dalam format yang lebih intim: sebuah film pendek berjudul “Bahasa Cinta yang Beda”.
Dibintangi kembali oleh Dian Sastrowardoyo dan Sissy Prescillia, serta disutradarai Teddy Soeria Atmadja, film ini diluncurkan perdana dalam gala premiere di XXI Epicentrum Jakarta. Jika dulu penonton diajak menyelami puisi, surat, dan jarak yang memisahkan, kini cerita itu dibawa ke ruang yang lebih sehari-hari—dapur, meja makan, dan kebiasaan kecil yang sering luput dari perhatian.
“Bahasa cinta tidak selalu harus berupa gestur besar atau kata-kata puitis; ia bisa hadir lewat hal-hal sederhana yang dilakukan secara tulus dan konsisten, termasuk melalui sepiring Omelette Cinta dengan sentuhan rasa gurih mantap dari Royco Bumbu Kaldu Rasa Ayam Kampung,” sebut Teddy Soeria Atmadja selaku sutradara, dikutip Asia World View, Sabtu (12/9/2026).
Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi rutinitas, tenggat pekerjaan, notifikasi tanpa henti, dan berbagai distraksi digital, kesempatan untuk benar-benar terkoneksi dengan orang-orang terdekat memang semakin terbatas. Kita sering hadir secara fisik, tetapi pikiran melayang ke tempat lain. Padahal, koneksi adalah bagian penting dalam setiap hubungan—entah itu dengan keluarga, sahabat, ataupun pasangan. Di sinilah bahasa cinta menjadi cara universal untuk menunjukkan perhatian, membangun kedekatan, dan menjaga hubungan tetap bermakna.
Baca Juga: Cinta Laura: Budaya Lingkungan dan Daur Ulang yang Mengakar di Jerman Sejak 100 Tahun Silam
“Film pendek ini mencoba menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam narasi yang hangat dan relatable: bahwa cinta bisa diungkapkan melalui perhatian kecil yang konsisten, bukan hanya melalui momen-momen besar yang jarang terjadi. Omelette, dalam hal ini, dipilih sebagai simbol karena kesederhanaannya,” tambahnya.
Sementara, Nuning Wahyuningsih, Head of Marketing Foods Unilever Indonesia, menyampaikan bahwa sebagai brand yang selama puluhan tahun mendampingi masyarakat menghadirkan momen-momen penuh makna melalui masakan. Royco percaya bahwa kegiatan memasak adalah salah satu bahasa cinta sederhana yang dapat dilakukan siapa saja.
“Bahasa cinta tidak selalu membutuhkan kata-kata indah ataupun gestur yang grande, karena justru sering kali perhatian terasa paling bermakna ketika hadir lewat hal-hal kecil yang konsisten dilakukan. Maka, Royco ingin menginspirasi bahwa masakan sehari-hari sebetulnya bisa menjadi cara menunjukkan perhatian dan kembali membangun koneksi dengan orang-orang terdekat,” jelasnya.
Pesan ini terasa relevan di era ketika waktu menjadi komoditas mahal dan perhatian menjadi bentuk kasih sayang yang paling langka. Memasak untuk seseorang bukan sekadar menyediakan makanan. Ini adalah tindakan memberi waktu, tenaga, dan pikiran—tiga hal yang tidak bisa dibeli dengan mudah.
Untuk menerjemahkan pesan tersebut, Royco mengangkat Omelette sebagai simbol bahasa cinta yang berbeda, sederhana, namun personal. Hal yang membuat sebuah hidangan menjadi istimewa bukanlah kompleksitas resepnya, melainkan perhatian di balik proses pembuatannya.
Hidangan sesimpel sepiring Omelette bisa merepresentasikan presence seseorang yang rela berhenti sejenak dari kesibukan untuk meluangkan waktu memasaknya; kepekaan dalam memahami selera orang tersayang—baik itu bahan favorit, tingkat kematangan, atau cara penyajiannya; hingga terciptanya quality time saat memasak maupun menikmatinya bersama.
“Bahasa Cinta yang Beda” menyiratkan bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengungkapkan kasih—ada yang lewat kata-kata, ada yang lewat sentuhan, ada yang lewat tindakan, dan ada yang lewat hidangan sederhana di meja makan. Perbedaan itu bukan penghalang, melainkan kekayaan yang bisa dipelajari.
