Gunung Anak Krakatau Kembali Bergolak: Erupsi Menerus Guncang Selat Sunda, Sebaran Abu Hingga Jakarta

Gunung Anak Krakatau erupsi.

ASIAWORLDVIEW Kegelapan malam di Selat Sunda, Jumat (4/9/2026) lalu, tiba-tiba tersobek oleh cahaya kemerahan yang memancar dari puncak Gunung Anak Krakatau. Sekitar pukul 23.07 WIB, gunung api aktif yang telah lama berstatus Siaga itu kembali menunjukkan taringnya. Erupsi besar dengan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026 pun dimulai, menandai babak baru dalam rangkaian aktivitas vulkanik yang telah berlangsung sejak status Siaga (Level III) pertama kali ditetapkan pada 2 Juli 2026.

Letusan yang terjadi tergolong dalam tipe Strombolian, ditandai dengan semburan lava pijar layaknya air mancur (lava fountain) dan lontaran bom vulkanik yang menghujani sekitar kawah. Dentuman keras dan gemuruh yang dihasilkan tidak hanya terdengar jelas dari Pos Pantau Pasauran di Banten, tetapi juga menggema hingga ke wilayah pesisir Banten, Lampung, dan bahkan Jawa Barat.

“Rangkaian letusan pada 4 hingga 5 September ini menjadi yang tertinggi secara intensitas sejak gunung tersebut berstatus siaga,” ungkap Pengamat Gunung Api Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman. Aktivitas dahsyat ini bahkan sempat merusak sejumlah alat pemantauan, termasuk kamera CCTV di sekitar kawah, akibat terpapar material erupsi.

Erupsi yang berlangsung secara menerus selama lebih dari satu hari ini akhirnya mulai mereda pada Minggu (6/9) dini hari, tepatnya pukul 00.04 WIB. Meski begitu, aktivitas vulkanik masih terus terpantau dengan letupan-letupan kecil yang tersisa. Hingga Minggu pagi, satu gempa letusan masih terekam dengan amplitudo maksimum 46 milimeter dan durasi sekitar 30 detik.

Baca Juga: Bandara Kualanamu Kembali Normal Pasca Erupsi Sinabung

Meskipun fase erupsi utama telah berlalu, dampaknya terasa sangat luas. Abu vulkanik yang disemburkan gunung terbawa angin ke arah utara dan barat laut, menyebar dalam dua klaster utama. BMKG mengidentifikasi sebaran abu dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki menjangkau wilayah Lampung, Bengkulu, Banten, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.

Klaster lainnya, dari permukaan hingga 20.000 kaki, bergerak ke arah timur laut-selatan, menyelimuti sebagian besar wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Warga di Pondok Gede, Bekasi, bahkan mengeluhkan serpihan debu hitam yang masuk ke dalam rumah mereka. Di Lampung, hujan abu tipis dilaporkan terjadi di Kabupaten Lampung Selatan, Bandar Lampung, dan Tanggamus.

Dampak paling signifikan dirasakan di sektor penerbangan. Sebaran abu vulkanik yang membahayakan mesin pesawat memaksa otoritas bandara mengambil langkah tegas. Bandara Internasional Soekarno-Hatta, sebagai gerbang utama Indonesia, terpaksa ditutup sementara mulai pukul 01.30 WIB. Penutupan ini merupakan tindak lanjut dari hasil paper test yang menunjukkan indikasi positif adanya abu vulkanik di kawasan bandara. Akibatnya, sedikitnya 209 penerbangan dibatalkan, memengaruhi lebih dari 22.000 penumpang. Dampak berantai pun terjadi, mengingat banyaknya rute internasional yang terdampak, termasuk penerbangan menuju dan dari Singapura, Hong Kong, Sydney, hingga Amsterdam. Penutupan juga melanda sejumlah bandara lain, seperti Halim Perdanakusuma, Radin Inten II di Lampung, Budiarto Curug, dan Pondok Cabe.

Menghadapi situasi ini, pemerintah dan badan terkait bergerak cepat. PVMBG menegaskan bahwa status Gunung Anak Krakatau tetap pada Level III (Siaga). Masyarakat pun diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Mengenai potensi tsunami yang kerap menjadi momok, PVMBG memastikan bahwa hingga saat ini tidak ada indikasi yang mengarah ke sana. Badan Geologi menyatakan bahwa tubuh gunung yang baru terbentuk pasca-runtuhan 2018 masih relatif kecil dan belum berpotensi runtuh dalam skala besar yang dapat memicu tsunami. KSOP Kelas I Banten juga mengeluarkan peringatan bagi seluruh kapal yang melintasi Selat Sunda untuk tidak mendekati radius tiga kilometer dari kawah dan meningkatkan kewaspadaan.

BMKG pun terus melakukan pemantauan real-time, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpancing isu hoaks. “Tetap tenang. Jangan terpancing oleh isu atau hoaks yang beredar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” demikian imbauan resmi dari BMKG. Masyarakat di wilayah terdampak abu vulkanik juga diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker jika terpaksa harus keluar rumah.

Infografis Gunung Anak Krakatau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *