ASIAWORLDVIEW – Bitcoin bergerak dalam rentang USD77.639,83 hingga USD79.240,50 pada hari ini, Kamis (27/8/2026). Pergerakan ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara pembeli dan penjual di tengah upaya BTC membangun kembali momentum bullish setelah reli pekan lalu.
Meskipun sempat terkoreksi dari level di atas USD 80.000, Bitcoin menunjukkan ketahanan yang relatif kuat. Aset digital ini berhasil mencatatkan penguatan sebesar 13,33% dalam tujuh hari terakhir, 24,20% dalam 30 hari, dan 31,30% dalam 60 hari. Performa ini menunjukkan bahwa penguatan yang terjadi adalah bagian dari tren pemulihan yang lebih besar, bukan sekadar pergerakan satu hari, dan turut mendukung sentimen positif di pasar.
Salah satu alasan utama Bitcoin mampu menguat adalah karena pembeli berhasil mempertahankan harga di atas area USD77.000-USD78.000. Meskipun sempat turun ke USD77.639,83, BTC segera kembali naik dan mencapai USD79.240,50. Ini menunjukkan bahwa masih ada minat beli yang cukup kuat untuk menyerap tekanan jual.
Baca Juga: Bitcoin dan XRP Menguat Jelang Pemungutan Suara CLARITY Act
Kondisi ini juga dipengaruhi oleh Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat telah memulai kembali proses pembuatan aturan terkait custody (penyimpanan) aset kripto. Beberapa analis melihat langkah ini sebagai sinyal bahwa regulator mulai membahas pertanyaan praktis seperti “bagaimana proyek dapat menggalang dana” dan “bagaimana institusi dapat menyimpan aset kripto”. Jika aturan ini terus berkembang, hal ini dapat mengurangi ketidakpastian dan mendukung permintaan dari institusi.
Meskipun ada sentimen positif, terdapat beberapa faktor yang membatasi ruang penguatan Bitcoin dan menyebabkan harga “terjebak” di bawah USD 80.000. Data inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures) AS untuk bulan Juli naik menjadi 3,7% year-over-year, di atas ekspektasi pasar. Hal ini mendorong kenaikan ekspektasi suku bunga The Fed dan memperkuat dolar AS ke level tertingginya dalam hampir delapan hari. Dolar yang lebih kuat cenderung memberikan tekanan pada aset-aset berisiko seperti Bitcoin.
Setelah reli lebih dari 25% dalam sepekan, banyak pemegang jangka panjang (long-term holders) mulai memindahkan aset mereka ke bursa untuk mengambil keuntungan. Hal ini tercermin dari meningkatnya rasio Output Profit Spent Rate (SOPR) ke level tertinggi sejak 25 Juli. Aktivitas profit-taking ini menciptakan tekanan jual yang signifikan, sehingga Bitcoin kesulitan untuk menembus level resistensi USD80.000.
