ASIAWORLDVIEW – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan lagi sekadar bencana lokal. Kondisi ini telah menjadi momok lintas negara yang mengancam kesehatan publik secara masif, termasuk Malaysia dan Singapura.
Warga negara tetangga tersebut mengeluhkan dampak dari asap kebakaran hutan. Selain menyebabkan polusi udara, membuat sistem pencernaan terganggu.
“Asap pekat yang terbawa angin tidak mengenal batas wilayah, menurunkan kualitas udara hingga level berbahaya—konsentrasi partikulat halus PM2,5 melonjak drastis. Bagaimana tanggung jawab Indonesia,” tulis seorang warganet dari Malaysia, dikutip dari X, Rabu (26/8/2026).
Baca Juga: Prabowo: Perusahaan Penyebab Karhutla Kalimantan Akan Dicabut Izinnya
Partikel-partikel mikroskopis ini masuk ke saluran pernapasan, memicu iritasi hingga peradangan, mengutip Health. Pada akhirnya meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara signifikan
Gejala seperti batuk, sesak napas, sakit tenggorokan, hingga demam menjadi momok yang menghantui. Apalagi bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis seperti asma atau bronkitis.
Di Malaysia dan Singapura, kabut asap ini pernah menyebabkan lonjakan kasus ISPA hingga puluhan ribu dalam hitungan minggu, memaksa pemerintah setempat mengeluarkan peringatan kesehatan, menutup sekolah, dan membatasi aktivitas luar ruangan.
Ancaman jangka panjangnya bahkan lebih mengerikan: paparan polusi asap dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan menurunkan fungsi paru-paru secara permanen. Krisis ini menjadi pengingat bahwa kesehatan adalah tanggung jawab kolektif yang melampaui batas-batas wilayah.
Di sisi lain, tantangan ini juga menjadi peluang untuk mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup bersih dan sehat, termasuk menjaga lingkungan agar tetap lestari. Gaya hidup sehat tidak hanya tentang pola makan dan olahraga, tetapi juga tentang memperhatikan kualitas udara yang kita hirup setiap hari.
