ASIAWORLDVIEW – Di tengah kesibukan mengasuh anak, memastikan asupan gizi harian yang seimbang seringkali menjadi perhatian utama para orang tua. Salah satu bentuk dukungan nutrisi yang umum diberikan adalah susu pertumbuhan, yang kini hadir dengan berbagai formulasi.
Salah satu varian yang menarik untuk dicermati adalah yang diperkaya dengan COD Liver Oil (minyak hati ikan kod), sebuah sumber alami yang kaya akan Vitamin A dan Vitamin D. Ternyata terdapat pada susu Vidoran.
“Selama hampir lima dekade, vidoran terus berkomitmen untuk menjalankan visi misi kami yaitu memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh anak Indonesia melalui produk nutrisi berkualitas dengan harga terjangkau. Hal tersebut memotivasi kami untuk terus mendukung pemenuhan nutrisi anak Indonesia melalui susu vidoran Xmart sebagai bekal terbaik agar tumbuh menjadi Anak Generasi Emas,” ujar Endang Wijaya, Senior General Manager Brand Consumer Marketing, Nutritionals, Women & Children VMS, and Children OTC PT Tempo Scan Pacific Tbk.
Kedua vitamin ini memiliki peran yang sangat fundamental bagi si kecil: Vitamin A berfungsi sebagai pelindung utama kesehatan mata dan penglihatan, sekaligus menjadi garda terdepan dalam menjaga integritas sel-sel epitel yang membentuk lapisan pelindung tubuh, sehingga daya tahan tubuh terhadap infeksi lebih optimal.
Sementara itu, Vitamin D bertindak sebagai ‘kunci’ yang memungkinkan penyerapan kalsium dan fosfor berjalan maksimal di saluran pencernaan, memastikan tulang dan gigi si kecil tumbuh dengan kepadatan yang baik dan struktur yang kokoh, serta berperan penting dalam mengatur sistem imun agar tidak bereaksi berlebihan.
Baca Juga: Tips Menjaga Pola Makan Sehat Anak di Tengah Gempuran Fast Food
Tak kalah penting adalah kandungan DHA serta asam lemak esensial Omega 3 dan Omega 6. Zat-zat ini adalah komponen struktural utama dari membran sel saraf di otak dan retina mata. Proses tumbuh kembang anak di usia emas adalah periode di mana otak mengalami pertumbuhan pesat dan membentuk jutaan koneksi saraf baru.
Asupan DHA yang cukup mendukung kelancaran transmisi sinyal antar sel saraf, yang secara praktis berkorelasi dengan kemampuan kognitif, daya ingat, dan proses belajar anak. Sementara Omega 3 dan 6, meskipun sering disebut ‘lemak’, justru sangat dibutuhkan untuk menunjang perkembangan kecerdasan serta membantu menjaga keseimbangan metabolisme energi, sehingga aktivitas fisik anak yang padat tetap didukung oleh stamina yang baik.
Selain komponen lemak esensial, peran protein, kalsium, zat besi, dan Zinc tidak boleh diabaikan. Protein adalah batu bata pembangun seluruh jaringan tubuh, mulai dari otot hingga enzim-enzim pencernaan, memastikan pertumbuhan tinggi dan berat badan sesuai dengan kurva pertumbuhan. Kalsium, yang bekerja sinergis dengan Vitamin D3, jelas menjadi andalan dalam pembentukan kerangka tubuh yang kuat, mencegah risiko pengeroposan dini pada masa kanak-kanak.
Zat besi adalah komponen vital dari hemoglobin, yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh sel tubuh; kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia yang berdampak pada lesu dan menurunnya prestasi akademik. Vitamin C hadir sebagai ‘pengawal’ yang memastikan penyerapan zat besi menjadi lebih efektif, sekaligus berperan sebagai antioksidan yang melindungi sel-sel tubuh dari radikal bebas, sementara Vitamin E bekerja untuk menjaga kesehatan jaringan lemak dan sel darah merah. Zinc, yang sering disebut sebagai mikromineral ajaib, sangat berperan dalam mempercepat regenerasi sel dan memelihara indera perasa, sehingga anak tetap memiliki nafsu makan yang baik.
Anak-anak seringkali kurang mengonsumsi sayur dan buah, kehadiran serat prebiotik ini membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di dalam usus. Saluran pencernaan yang sehat bukan hanya mengurangi risiko sembelit, tetapi juga menjadi fondasi sistem kekebalan tubuh yang kuat, mengingat sebagian besar sel imun justru berada di sekitar usus.
Di sisi lain, pilihan untuk menghadirkan gula yang lebih rendah merupakan langkah preventif yang patut diapresiasi dari sudut pandang kesehatan jangka panjang. Mengurangi paparan gula tambahan sejak dini dapat membantu anak terbiasa dengan rasa yang lebih alami, sekaligus meminimalisir risiko obesitas dan kerusakan gigi yang sering menjadi momok bagi anak-anak usia dini.
