Ternyata Ini Tantangan Penerapan Sustainability Secara Global

Director General dari European Institute of Innovation for Sustainability (EIIS)

ASIAWORLDVIEW – Negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, tengah berlomba untuk melakukan program keberlanjutan atau sustainability. Namun transisi dalam sustainability memang bukan hal yang mudah, karena menuntut perubahan mendasar dalam cara kita berproduksi, konsumsi, dan mengelola sumber daya.

Andrea Geremicca, Director General dari European Institute of Innovation for Sustainability (EIIS) saat wawancara eksklusif dengan Asia World View, menjelaskan, proses ini sering kali menghadapi resistensi dari berbagai pihak, baik individu maupun institusi, karena perubahan berarti meninggalkan kebiasaan lama yang sudah dianggap nyaman atau menguntungkan.

“Tantangan terbesar terletak pada aspek sosial dan psikologis: masyarakat harus diajak untuk memahami alasan di balik perubahan, menerima bahwa praktik lama tidak lagi relevan, dan bersedia beradaptasi dengan paradigma baru yang lebih berkelanjutan,” ia mengatakan.

Selain itu, transisi menuju keberlanjutan juga membutuhkan investasi besar dalam teknologi ramah lingkungan, infrastruktur hijau, serta kebijakan publik yang mendukung. Hal ini tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan melalui proses bertahap yang memerlukan kesabaran, komitmen, dan koordinasi lintas sektor.

Baca Juga: Kolaborasi Ferrero dan EIIS: Generasi Kini Harus Bertindak, Keberlanjutan Tanggung Jawab Kita

“Dunia usaha, pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil harus bekerja sama, karena tanpa kolaborasi, transisi akan berjalan lambat dan tidak efektif,” ia menambahkan.

Pendidikan menjadi fondasi utama dalam transisi ini. Tanpa pemahaman yang mendalam, masyarakat akan sulit menerima perubahan, bahkan bisa menolaknya.

“Pendidikan berfungsi untuk menjelaskan manfaat jangka panjang dari keberlanjutan, seperti kualitas hidup yang lebih baik, lingkungan yang lebih sehat, dan ekonomi yang lebih stabil. Transisi yang awalnya terasa berat bisa menjadi lebih mudah diterima, karena masyarakat memahami bahwa perubahan ini bukan sekadar tuntutan global, melainkan kebutuhan nyata untuk masa depan,” jelasnya.

Selain pendidikan, kolaborasi juga menjadi hal penting. Menurutnya, jalan untuk mencapai kesejahteraan global. Ia menyoroti bahwa tantangan besar seperti krisis iklim, keberlanjutan, dan transformasi sosial-ekonomi tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak atau satu negara saja. Sebaliknya, diperlukan kerja sama lintas batas, melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari belahan dunia yang berbeda.

“Eropa dan Asia, misalnya, memiliki peluang besar untuk memperkuat hubungan dan meningkatkan kualitas kolaborasi, karena pada akhirnya kedua kawasan menghadapi masalah yang sama dan membutuhkan solusi bersama,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *