ASIAWORLDVIEW – Ondel-ondel menjadi ciri khas Jakarta, lahir dari budaya Betawi sebagai simbol perlindungan dan penolak bala. Lalu berkembang menjadi ikon budaya yang merepresentasikan identitas kota. Kini, ondel-ondel tidak hanya hadir dalam ritual tradisional, tetapi juga tampil dalam perayaan resmi, festival, dan seni pertunjukan sebagai lambang kebersamaan dan warisan budaya.
Ondel-ondel yang dahulu dikenal dengan nama “barongan” dipercaya sebagai entitas penolak bala yang memiliki kekuatan magis untuk melindungi kampung-kampung dari gangguan roh jahat serta mengusir wabah penyakit yang kerap mengancam kehidupan masyarakat agraris di kawasan Batavia.
Mengutip jurnal budaya, Etnis Betawi: Kajian Historis oleh Heru Erwantoro, kehadirannya bukanlah sekadar hiburan, melainkan bagian tak terpisahkan dari ritual adat yang sarat dengan nilai-nilai kosmologis, di mana masyarakat meyakini bahwa arwah leluhur atau kekuatan gaib merasuk ke dalam boneka berukuran superbesar tersebut untuk menjaga keseimbangan alam semesta.
Baca Juga: Lenong Te-Ko, Kisah Kampung Betawi di Tengah Hiruk-Pikuk Kota Jakarta
Catatan sejarah menguatkan bukti keberadaan sosok ini jauh sebelum Jakarta menjelma menjadi metropolitan modern; pedagang Inggris bernama W. Scott telah menuliskannya dalam laporan perjalanannya sebelum tahun 1600 M, dan berabad-abad kemudian, penulis Amerika E.R. Scidmore pun mengabadikan pengamatannya mengenai pertunjukan boneka raksasa yang menghipnotis di Batavia, membuktikan bahwa ikatan tersebut telah teruji oleh waktu dan lintasan peradaban yang berganti-ganti.
Gubernur Ali Sadikin mengambil kebijakan visioner untuk menggeser paradigma ondel-ondel dari medium mistis yang menakutkan menjadi simbol budaya Betawi yang inklusif, ramah, dan estetis. Ali Sadikin menyadari bahwa Jakarta yang sedang tumbuh sebagai ibu kota negara membutuhkan ikon budaya yang mampu mempersatukan berbagai lapisan masyarakat pendatang tanpa menghilangkan akar lokalnya.
Wajah ondel-ondel yang sebelumnya garang dimodifikasi menjadi lebih tersenyum, dengan tata rias yang cerah dan warna-warna mencolok seperti merah dan hijau yang melambangkan keberanian serta kesuburan. Proses desakralisasi ini justru tidak memutuskan ikatan, melainkan memperluasnya, karena ondel-ondel kemudian turun dari pedestal spiritualnya untuk berbaur langsung dengan warga dalam festival-festival besar, pesta rakyat di pasar malam, hingga upacara.
Ondel-ondel hadir di setiap momen penting kota, mulai dari perayaan HUT Jakarta, carnaval kemerdekaan, hingga acara pernikahan dan khitanan, menciptakan resonansi emosional yang kuat di hati setiap warga yang menyaksikan gerak gemalai dan irama tanjidor yang mengiringinya. Bahkan di tengah gempuran modernisasi dan globalisasi, ondel-ondel tetap eksis dengan menjamurnya sanggar-sanggar budaya yang melatih generasi muda untuk memainkannya, serta munculnya berbagai interpretasi kontemporer seperti figur ondel-ondel dalam seni mural, kerajinan suvenir, hingga maskot acara olahraga.
