ASIAWORLDVIEW – Umat Budha di seluruh dunia memperingati Hari Waisak hari ini, Minggu (31/5/2026). Ini merupakan momen paling sakral dalam kalender Buddhisme karena memperingati tiga peristiwa agung yang dialami oleh Siddhartha Gautama.
Tiga peristiwa ini—kelahiran Pangeran Siddhartha di Taman Lumbini, pencapaian Penerangan Sempurna (Bodhi) di bawah Pohon Bodhi di Bodh Gaya, dan Parinibbana (wafat) di Kusinara. Momen ini merangkum seluruh jalan spiritual yang dapat ditempuh oleh manusia, dari potensi yang muncul saat kelahiran, realisasi kebenaran sejati, hingga pembebasan akhir dari siklus kelahiran kembali yang penuh penderitaan.
Bagi umat Buddha, ketiga momen ini bukanlah sekadar catatan sejarah, melainkan cermin bahwa setiap manusia memiliki benih Kebuddhaan yang dapat ditumbuhkan. Kelahiran Siddhartha mengingatkan bahwa setiap insan lahir dengan potensi welas asih dan kebijaksanaan.
Baca Juga: Restorasi Candi Sewu dan Ratu Boko, Jaga Warisan Budaya dan Pariwisata

Penerangan Sempurna membuktikan bahwa penderitaan dapat diakhiri melalui daya upaya sendiri dengan melenyapkan kebodohan batin dan kemelekatan. Sementara Parinibbana menegaskan ajaran tentang ketidakkekalan (anicca) sekaligus pencapaian tertinggi, yaitu kebebasan mutlak yang tidak lagi meninggalkan sisa-sisa kemelekatan apa pun.
Umat Buddha di seluruh dunia merenungkan kembali hakikat kehidupan mereka sebagai makhluk yang mengembara dalam samsara. Selain itu, menerima undangan universal untuk melangkah menuju cahaya kesadaran, persis seperti yang dilakukan Buddha lebih dari dua milenium silam.
Makna Waisak juga berakar pada dua pilar ajaran Buddha yang terjalin erat dalam tindakan nyata: kebijaksanaan (pañña) dan welas asih (karuna). Perayaan ini tidak dihayati sekadar dengan kontemplasi hening, melainkan juga dengan mengejawantahkan ajaran ke dalam praktik hidup.
Di Indonesia, kemegahan perayaan di Candi Borobudur menghadirkan prosesi Pradaksina, mengelilingi stupa utama tiga kali searah jarum jam, yang melambangkan penghormatan terhadap Triratna (Buddha, Dhamma, dan Sangha) serta perjalanan menuju pusat kesadaran. Puncak perayaan pada detik-detik bulan purnama adalah momen hening semesta, di mana segala doa dan meditasi dipusatkan untuk perdamaian seluruh makhluk tanpa kecuali.
Ini menjadi pengingat bahwa welas asih sejati tidak mengenal batas suku, agama, atau spesies, selaras dengan ajaran Buddha bahwa sebagaimana kita mencintai kehidupan, semua makhluk pun gemetar pada penderitaan dan mendambakan kebahagiaan.
Waisak sejatinya adalah kesempatan untuk “terlahir kembali” sebagai manusia yang lebih sadar, untuk “menerang” kegelapan batin sendiri dengan pelita Dharma. Selain itu, untuk “melepaskan” beban kebencian serta kemelekatan yang selama ini mengikat.
