Rupiah Mulai Pulih, Pasar Optimis Negosiasi AS–Iran

Mata uang Rupiah.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) atau tercatat mengua hari ini, Rabu (25/5/2026), didorong oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap prospek perdamaian antara AS dan Iran di Timur Tengah. Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.696 per dolar AS, menguat 21 poin atau 0,12% dari posisi penutupan akhir pekan sebelumnya di level Rp17.717.

Penguatan rupiah terutama didorong oleh harapan perdamaian di Timur Tengah dan respons pasar terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut perundingan dengan Iran berjalan secara konstruktif. Optimisme ini berdampak luas, turut mendorong penguatan mata uang utama Asia lainnya seperti yen Jepang, yuan China, dan baht Thailand pada awal perdagangan.

Perkembangan positif dalam negosiasi AS-Iran semakin menguat setelah Presiden Trump mengklaim bahwa kesepakatan damai dengan Iran telah “sebagian besar dinegosiasikan” dan akan segera memasuki tahap finalisasi. Ia menyebut bahwa komunikasi dengan pihak Iran berjalan lebih profesional dan produktif.

Menurut berbagai laporan, rancangan kesepakatan tersebut mencakup beberapa poin penting: pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian konflik di semua front, upaya mengatasi kekhawatiran program nuklir Iran, serta rencana pencabutan sanksi ekonomi. Negosiasi difasilitasi oleh Pakistan sebagai mediator, dengan AS dan Iran diperkirakan akan mengumumkan finalisasi draf kesepakatan dalam waktu dekat.

Baca Juga: Rupiah Masih Rapuh di Tengah Tekanan Global, Rp17.655 Per dolar AS

Penguatan rupiah pada hari itu terjadi melalui dua mekanisme utama. Pertama, penurunan harga minyak mentah dunia sebagai respons terhadap berkurangnya risiko geopolitik.

Analis JPMorgan memperkirakan jika Selat Hormuz benar-benar terbuka, harga minyak dapat rata-rata turun ke US$ 97 per barel sepanjang tahun 2026. Hal ini mengurangi tekanan pada defisit transaksi berjalan Indonesia yang sensitif terhadap fluktuasi harga energi.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada pertengahan Mei 2026 sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar dan mengurangi volatilitas pasar keuangan domestik di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

Meskipun optimisme geopolitik mendorong penguatan, kenaikan rupiah pada 25 Mei 2026 tetap terbatas oleh sejumlah faktor fundamental domestik dan eksternal. Dari sisi internal, defisit neraca transaksi berjalan Indonesia yang besar menjadi beban yang membayangi ruang penguatan rupiah.

Data menunjukkan bahwa sepanjang Mei 2026, rupiah secara keseluruhan sudah melemah sekitar 2,1%, mencerminkan tekanan eksternal dan permintaan valuta asing yang masih dominan di tengah tingginya indeks dolar AS. Faktor global yang menekan termasuk ketidakpastian arah suku bunga Federal Reserve, dengan sosok Ketua The Fed yang baru diperkirakan akan sulit menurunkan suku bunga acuan.

Bank Indonesia sendiri sebelumnya mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik memicu lonjakan ketidakpastian ekonomi global, disrupsi rantai pasok, dan aliran modal keluar yang dapat menekan nilai tukar rupiah.

Prospek ke depan, para analis memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dengan rentang Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS dalam jangka pendek.

Para pelaku pasar kini menantikan langkah konkret dari finalisasi kesepakatan Washington-Teheran yang diharapkan dapat memberikan stabilitas jangka panjang pada harga komoditas energi dan pasar keuangan global. Namun demikian, tantangan tetap ada mengingat posisi Israel yang belum tentu sejalan dengan arah kesepakatan damai tersebut, serta pernyataan kontradiktif dari pihak Iran mengenai pengendalian Selat Hormuz yang dapat mempengaruhi implementasi kesepakatan di lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *