ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar Rupiah hari ini, Kamis (21/5/2026), melemah tipis ke level Rp17.655 per dolar AS atau USD, turun 1 poin atau 0,01% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.654. Pelemahan ini terjadi di tengah kisaran perdagangan harian yang diperkirakan berada di Rp17.690–Rp17.740 per USD, mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat.
Dari sisi global, harga minyak dunia tetap tinggi meski sedikit terkoreksi, dengan Brent di USD 104,5 per barel (turun 6,5%) dan WTI di USD 98 per barel (turun 5,5%). Kondisi ini tetap menekan mata uang negara importir energi seperti Indonesia. Selain itu, indeks dolar AS yang masih kuat menambah tekanan terhadap rupiah.
Di dalam negeri, sentimen fiskal menjadi sorotan. Kondisi fiskal Indonesia dinilai rapuh menghadapi gejolak global, terutama terkait beban subsidi energi dan insentif daya beli masyarakat.
Baca Juga: Rupiah Melemah Lagi Hari Ini, Rp17.743 Per Dolar AS
Pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai tax ratio yang masih rendah (<10% dari GDP) menambah kekhawatiran investor terhadap kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal. Sementara itu, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin ke 5,25%, namun langkah ini belum cukup menahan pelemahan rupiah karena aliran modal asing masih keluar.
Investor dan pelaku pasar perlu mewaspadai volatilitas rupiah yang sensitif terhadap harga minyak dan dinamika geopolitik global. Importir energi menghadapi biaya lebih tinggi, sementara pemerintah harus menjaga keseimbangan fiskal dengan subsidi BBM.
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.690–Rp17.740 per USD jika tekanan harga minyak berlanjut. Peristiwa ini menegaskan bahwa pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh kombinasi harga minyak dunia, indeks dolar AS, dan kebijakan fiskal Indonesia.
