Konser Internasional Dorong Devisa dan Pariwisata Indonesia

Konser musik

ASIAWORLDVIEW – Kehadiran konser musisi global, termasuk grup KPop papan atas seperti BLACKPINK, BTS (saat reuni nanti), serta penyanyi dunia seperti Taylor Swift, Ed Sheeran, atau Bruno Mars, di Indonesia diharapkan mampu mengubah peta perjalanan wisata hiburan di Asia Tenggara.

“Selama ini, banyak penggemar Indonesia yang rela mengeluarkan biaya besar untuk terbang ke Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, atau Tokyo hanya untuk menonton idola mereka, sebuah fenomena yang mengakibatkan kebocoran devisa dalam jumlah signifikan, karena uang untuk tiket, akomodasi, konsumsi, dan belanja mengalir ke luar negeri,” sebut Harry Sudarma, Co-Founder dan COO PK Entertainment Group dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Dengan menghadirkan konser yang sama atau bahkan lebih eksklusif di dalam negeri, pemerintah dan promotor seperti PK Entertainment Group berharap terjadi pembalikan arus: wisatawan asing dari negara tetangga, misalnya Malaysia, Singapura, Filipina, bahkan Australia dan Korea Selatan, justru datang ke Indonesia untuk menikmati konser sekaligus berlibur.

Baca Juga: PK Entertainment Bangun Ekosistem Kreatif Hiburan Indonesia

“Dampaknya berganda: devisa masuk dari pengeluaran turis asing, devisa tertahan karena masyarakat Indonesia tidak perlu keluar negeri, sekaligus peningkatan okupansi hotel, restoran, transportasi, dan UMKM lokal di sekitar lokasi acara,” ia menambahkan.

Selain itu, konser internasional juga menjadi soft power yang membangun citra Indonesia sebagai destinasi world-class entertainment hub, bukan sekadar tempat wisata alam. Dengan kata lain, idealnya Indonesia tidak lagi menjadi market bagi konser luar negeri, tetapi menjadi host yang menarik penonton global. Kondisi inilah yang terus didorong melalui perbaikan infrastruktur venue, kemudahan perizinan, dan promosi paket wisata terintegrasi.

Pasar live entertainment di Asia Tenggara tengah berada pada momen puncaknya dan diproyeksikan akan terus melesat. Berdasarkan proyeksi dari konsultan manajemen Redseer, nilai pasar ini diperkirakan akan mencapai USD 770 juta pada tahun 2028.

Angka tersebut merupakan bagian dari pasar pengalaman langsung yang lebih luas (live experience market), yang mencakup e-sports dan diproyeksikan mencapai USD 905-925 juta pada periode yang sama. Angka USD 770 juta ini memberikan gambaran potensi yang sangat besar, menjadikan kawasan Asia Tenggara salah satu pasar dengan pertumbuhan paling dinamis di dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *