ASIAWORLDVIEW – Orang yang pernah mengalami kecelakaan, atau menjadi korban, didiagnosa memiliki gejala gangguan kesehatan mental. Kondisi tersebut makin parah jika Anda mengalami cedera parah. Kondisi dapat semakin memperburuk tekanan emosional yang Anda rasakan saat berjuang mengatasi rasa sakit yang mungkin bersifat jangka panjang atau permanen.
Mengutip dari berbagai sumber, Selasa (28/4/2026), gangguan psikologis dapat menghambat penyembuhan luka dan berdampak buruk pada sistem kekebalan tubuh. Tidur bisa menjadi sulit akibat depresi, kecemasan, atau mimpi buruk. Anda mungkin terus-menerus mengingat kembali kecelakaan tersebut. Beberapa orang beralih ke obat-obatan dan alkohol untuk membantu mengatasi masalah, tetapi hal ini hanya memperburuk depresi dan kecemasan.
Reaksi stres akut, menjadi salah satu respons stres yang menyebabkan peningkatan kecemasan, perubahan suasana hati, dan bahkan gejala disosiatif. Hal ini sebagai respons terhadap kecelakaan mobil. Anda mungkin mengalami insomnia, mimpi buruk, atau kilas balik. Anda mungkin mengalami kecemasan ekstrem saat naik kendaraan, baik mobil atau kereta api.
Ini adalah respons normal terhadap kecelakaan atau korban yang dapat dialami oleh siapa saja. Hal ini dapat terjadi dua hari hingga sebulan setelah kecelakaan. Umumnya, seseorang mengalami reaksi stres akut meskipun cedera yang dialami tidak parah. Jika reaksi stres akut Anda berlangsung lebih dari sebulan, hal ini mungkin didiagnosis sebagai gangguan stres pascatrauma.
Baca Juga: Kesehatan Mental Masyarakat Terancam di Tengah Gejolak Sosial

Masalah psikologis lainnya yaitu gangguan stres pasca-trauma, atau PTSD. Kecemasan yang disebabkan oleh peristiwa yang sangat menegangkan. Orang dengan PTSD mengalami gejala yang serupa dengan orang yang mengalami reaksi stres akut, tetapi gejalanya tidak membaik dan bahkan dapat memburuk seiring waktu. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan penyebab utama PTSD di kalangan masyarakat umum.
PTSD mempengaruhi sekitar 32,3 persen korban selamat kecelakaan, menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Medicine. Para penulis mencatat bahwa studi sebelumnya melaporkan bahwa sebanyak 45 persen korban selamat kecelakaan mungkin mengembangkan PTSD. Studi tersebut menemukan bahwa kelompok-kelompok berikut paling mungkin mengalami gangguan stres pascatrauma setelah kecelakaan.
Depresi juga memengaruhi sekitar 17,4 persen korban kecelakaan mobil. Depresi dapat terjadi bersamaan dengan PTSD atau berdiri sendiri. Ini merupakan respons alami terhadap pemicu stres besar seperti kecelakaan mobil, tetapi jika berlangsung lama, mengganggu aktivitas harian Anda, atau menyebabkan pikiran bunuh diri, Anda mungkin memerlukan pengobatan.
Depresi timbul akibat munculnya nyeri kronis atau kecacatan baru yang disebabkan oleh kecelakaan, seperti kelumpuhan total atau sebagian, amputasi, luka bakar parah, dan cedera otak. Anda mungkin merasa sendirian, tak berdaya, dan putus asa saat berusaha menerima perubahan hidup yang drastis tersebut.
Proses pemulihan biasanya membutuhkan waktu dan dukungan, baik dari lingkungan sekitar maupun tenaga profesional. Langkah penting yang dapat membantu adalah berbicara dengan orang yang dipercaya, menjaga rutinitas sehat seperti tidur cukup dan olahraga ringan, serta mencari bantuan psikolog atau konselor bila gejala terasa berat. Dukungan sosial dan terapi yang tepat dapat membantu korban mengelola emosi, memulihkan rasa aman, serta membangun kembali kepercayaan diri untuk melanjutkan kehidupan.
