ASIAWORLDVIEW – Serial terbaru Netflix, Luka, Makan, Cinta yang tayang pada 15 April lalu berhasil menghadirkan pengalaman menonton yang hangat sekaligus emosional. Cerita ini membawa penonton larut dalam dinamika hubungan ibu dan anak yang penuh makna, tersipu dengan romansa Luka dan Dennis, serta ikut tergoda setiap kali hidangan dari Umah Rasa muncul di layar.
Perpaduan drama keluarga, kisah cinta, dan sentuhan kuliner membuat penonton tidak hanya menikmati alur cerita, tetapi juga merasakan kedekatan emosional dan atmosfer yang begitu nyata. Penonton seolah diajak ikut berada di dalam perjalanan para tokohnya.
Dalam salah satu episodenya, Luka, Makan, Cinta menampilkan bagaimana menu tradisional bisa diangkat menjadi sajian yang tampak lebih elegan dan berkelas. Lontong balapan, yang biasanya dikenal sebagai hidangan sederhana khas Jawa Timur, diolah dengan sentuhan kreatif sehingga tampil dengan presentasi modern tanpa kehilangan cita rasa autentiknya.
Baca Juga: Rimo-rimo dan Gohu Ikan, Jejak Kuliner Nusantara di Jalur Rempah
Makanan khas Surabaya, Jawa Timur, berupa lontong yang disajikan dengan tauge, tahu goreng, lentho, bawang goreng, kecap, sambal, dan kuah kaldu bening, biasanya ditemani sate kerang sebagai pelengkap. Hidangan ini terkenal sebagai kuliner tradisional yang sederhana namun kaya rasa, sekaligus menjadi bagian dari identitas kuliner kota Surabaya
Di episode ini, terlihat versi modern dari lontong balapan. Menghadirkan transformasi kuliner tradisional menjadi sajian yang lebih elegan dan artistik. Hidangan yang biasanya sederhana ini ditata dengan gaya fine dining: lontong dipotong rapi menyerupai potongan kecil menyerupai scallop, lalu disajikan dalam kuah kaldu ringan yang diperkaya dengan sentuhan kontemporer.
Tauge, lentho, dan garnish segar seperti microgreens serta bunga edible ditambahkan untuk memberi kesan segar sekaligus estetis. Sate kerang atau protein pelengkap diolah dengan teknik panggang modern dan disajikan dengan skewer metal yang menambah nuansa premium.
Presentasi yang imersif dan detail artistik, lontong balapan versi modern tidak hanya mempertahankan cita rasa khas Surabaya, tetapi juga mengangkatnya ke panggung kuliner berkelas yang menekankan kreativitas, keberlanjutan, dan daya tarik visual. Akhirnya, membuat lontong balapan bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari narasi yang menekankan kehangatan, nostalgia, sekaligus daya tarik kuliner Indonesia yang bisa bersaing di panggung lebih luas.
