ASIAWORLDVIEW – Pipa minyak penting Arab Saudi yang menghubungkan ke Laut Merah baru-baru ini menjadi sasaran serangan dari Iran. Dampaknya, mengurangi kapasitas aliran sebesar 700.000 barel per hari.
Serangan tersebut menargetkan stasiun pompa di pipa minyak Timur-Barat, menurut laporan kantor berita pemerintah. Pipa ini mengalirkan minyak mentah dari fasilitas pengolahan di dekat Teluk Persia ke terminal ekspor di Laut Merah yang bernama Yanbu.
Arab Saudi mengandalkan pipa tersebut, yang memiliki kapasitas 7 juta barel per hari, sebagai jalur utama ekspor minyak mentah selama perang dengan Iran. Riyadh tidak dapat mengekspor melalui Selat Hormuz akibat serangan Iran.
Serangan terhadap fasilitas produksi Manifa dan Khurais di Arab Saudi telah memangkas produksi kerajaan sebesar 600.000 barel per hari, menurut laporan Saudi Press Agency. Beberapa kilang minyak juga telah diserang.
Kerusakan pada infrastruktur energi Arab Saudi hanya akan memperparah gangguan besar pada pasokan minyak global yang dipicu oleh serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Krisis Energi Dunia Kian Dalam
Iran telah menegaskan bahwa kapal-kapal harus mendapatkan izinnya untuk melintasi selat tersebut, kata Sultan Ahmed Al Jaber, CEO Abu Dhabi National Oil Co.
“Momen ini membutuhkan kejelasan,” kata Al Jaber dalam sebuah postingan di media sosial. “Jadi mari kita jelaskan: Selat Hormuz tidak terbuka. Aksesnya dibatasi, dikondisikan, dan dikendalikan.”
Produsen minyak Teluk telah menghentikan produksi sekitar 13 juta barel per hari akibat gangguan di selat tersebut, kata Matt Smith, analis minyak di Kpler, mengutip CNBC.
Kerusakan pipa minyak Arab Saudi akibat serangan terbaru berdampak besar pada pasokan energi global, dan harga minyak dunia. Lonjakan harga minyak dunia saat ini mencerminkan dampak langsung dari terguncangnya pasokan energi global akibat ketegangan geopolitik.
Harga Brent mendekati USD97 per barel dan WTI berada di kisaran USD99 per barel, naik lebih dari 1% dalam dua hari terakhir. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan krisis energi baru, terutama bagi negara-negara importir minyak di Asia yang berisiko menghadapi kenaikan biaya energi.
Dampaknya bisa merembet pada inflasi, karena biaya produksi dan transportasi meningkat, sehingga menekan daya beli masyarakat. Situasi ini menegaskan betapa rentannya pasar energi terhadap gangguan geopolitik dan betapa cepatnya efek tersebut menyebar ke perekonomian global.
