ASIAWORLDVIEW – Umat Muslim diajarkan untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, baik yang besar maupun yang kecil. Rasa syukur ini diwujudkan melalui ucapan, doa, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bersyukur, seorang Muslim mengakui bahwa semua rezeki, kesehatan, kesempatan, dan kebahagiaan berasal dari Allah SWT, sehingga menumbuhkan rasa rendah hati dan ketenangan batin.
Syukur juga menjadi bentuk ibadah yang memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta, sekaligus mendorong seseorang untuk lebih sabar, ikhlas, dan berbuat baik kepada sesama. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan bahwa dengan bersyukur, nikmat akan ditambah, sementara kelalaian dalam bersyukur dapat mengurangi keberkahan hidup.
Ternyata rasa syukur juga berdampak terhadap kesehatan mental. Asiaworldview meninjau beberapa penelitian, dikutip dari UCLA Health, Senin (9/3/2026), menyebutkan, mengurangi risiko gejala atau gangguan depresi.
Baca Juga: Olahraga Jadi Terapi Alami untuk Kesehatan Mental
Sebuah tinjauan terhadap 70 studi yang melibatkan tanggapan dari lebih dari 26.000 orang menemukan hubungan antara tingkat rasa syukur yang lebih tinggi dan tingkat depresi yang lebih rendah. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami hubungan tersebut.

Orang yang bersyukur melaporkan kepuasan hidup yang lebih tinggi, hubungan sosial yang kuat, dan harga diri yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mempraktikkan rasa syukur.
Rasa syukur juga mengurangi tingkat kecemasan. Kecemasan sering kali melibatkan kekhawatiran dan pikiran negatif — biasanya tentang hal-hal yang terjadi di masa lalu atau mungkin terjadi di masa depan.
Rasa syukur dapat menjadi alat koping untuk kecemasan. Melatih rasa syukur secara teratur melawan pola pikir negatif dengan menjaga pikiran tetap fokus pada masa kini. Jika Anda menemukan diri Anda fokus pada pikiran negatif tentang masa lalu atau masa depan, tantang diri Anda untuk menemukan sesuatu yang Anda syukuri saat ini. Hal ini akan memutus proses pikiran negatif dan mengembalikan Anda ke masa kini.
Bersyukur juga mengurangi gejala depresi, tidur, pola makan, dan olahraga dapat menurunkan risiko penyakit jantung. Beberapa studi menunjukkan bahwa pola pikir yang bersyukur secara positif mempengaruhi biomarker yang terkait dengan risiko penyakit jantung.

Sebuah tinjauan penelitian pada tahun 2021 juga menemukan bahwa mencatat jurnal rasa syukur dapat menyebabkan penurunan signifikan pada tekanan darah diastolik — kekuatan yang dihasilkan jantung antara detak. Memiliki pikiran bersyukur, bahkan jika Anda tidak menuliskannya, juga membantu jantung Anda dengan memperlambat dan mengatur pernapasan Anda agar sinkron dengan detak jantung.
Stres memicu respons fight-or-flight pada sistem saraf Anda — jantung berdetak lebih cepat, otot berkontraksi, dan adrenalin mengalir. Namun, rasa syukur dapat membantu menenangkan sistem saraf.
Mengambil waktu sejenak untuk bersyukur menyebabkan perubahan fisiologis dalam tubuh Anda yang mengaktifkan sistem saraf parasimpatis — bagian dari sistem saraf yang membantu Anda beristirahat dan mencerna. Rasa syukur dan respons yang ditimbulkannya membantu menurunkan tekanan darah, detak jantung, dan pernapasan untuk membantu relaksasi secara keseluruhan.
Orang yang memiliki sikap syukur cenderung mengejar tujuan yang membuat mereka merasa baik — sikap positif mendorong tindakan positif. Mereka terlibat dalam aktivitas yang mendukung tidur sehat, seperti makan dengan baik dan berolahraga secara teratur. Berlatih rasa syukur juga membuat Anda kurang mungkin merasa stres, cemas, atau depresi — tiga faktor yang memengaruhi kualitas dan durasi tidur.
