ASIAWORLDVIEW – Non-Fungible Token atau NFT pernah merajai dunia aset digital pada 2021, ketika seni digital, uang kripto, dan budaya internet saling berpadu. Bahkan terdapat beberapa koleksi dengan harga yang fantastis.
Rumah lelang besar seperti Christie’s dan Sotheby’s ikut serta, para whale kripto unjuk kekuatan, dan kolektor tradisional merasa FOMO karena tidak ingin ketinggalan tren besar berikutnya. Mereka mengincar NFT langka.
Kini, NFT mulai kehilangan pamornya meski tak pudar. Banyak NFT yang pernah menjadi sorotan kini terdiam karena harganya turun drastis.
Salah satunya, The Merge-Pak. Karya digital ini memegang rekor sebagai penjualan NFT termahal dalam sejarah.
Baca Juga: Pasar NFT Kembali Bergeliat, Animoca Brands Akuisisi Somo Perluas Ekosistem Blockchain
NFT ini dibeli seharga USD91,8 juta pada 2 Desember 2021. Tidak ada kolektor tunggal untuk NFT ini, melainkan dibeli oleh sekitar 29.000 orang yang bersama-sama membeli lebih dari 312.000 unit (disebut mass), dengan harga mulai dari USD575 per unit.
Semakin banyak unit yang dimiliki seseorang, semakin besar pengaruhnya di ruang seni. Ini lebih mirip dengan memiliki organisme digital yang terus berkembang daripada membeli sebuah lukisan. Kritikus bahkan berargumen bahwa NFT ini tidak seharusnya disebut sebagai NFT termahal karena total nilainya berasal dari banyak pembeli, bukan dari satu pembeli.
Namun, angka-angka menceritakan kisah yang berbeda. Unit-unit individu The Merge diperdagangkan dengan harga yang jauh lebih rendah dari nilai aslinya. Harga dasar koleksi NFT The Merge saat ini berkisar antara USD47 hingga USD57 per unit berdasarkan data pasar terbaru dari CoinGecko.
