ASIAWORLDVIEW – Agresi militer Amerika Serikat (AS) dengan Iran, dan konflik geopolitik dunia dapat mengganggu dan traumatis. Meskipun kita tidak terlibat langsung, menyaksikan peristiwa yang terjadi, terutama yang menyebabkan kerusakan atau penderitaan manusia, dapat mempengaruhi kesehatan mental kita.
Setelah mengetahui peristiwa global yang menyebabkan ketidakpastian, Anda mungkin merasa takut, cemas, atau kehilangan kendali atas hidup dan rencana Anda sendiri. Anda mungkin khawatir tentang keselamatan orang asing, orang yang Anda cintai, atau diri Anda sendiri. Dan jika Anda pernah mengalami peristiwa serupa di masa lalu atau memiliki kesamaan dengan mereka yang terdampak, hal itu dapat memicu kenangan atau perasaan traumatis.
“Merasa kewalahan, cemas, sedih—meskipun terasa tidak nyaman—adalah hal yang wajar dalam situasi seperti ini,” kata psikolog Dana Rose Garfin, PhD, dari Universitas California, Irvine, yang meneliti trauma kolektif selama krisis. “Ini adalah situasi yang sangat menyedihkan, dan bagian dari pengalaman menjadi manusia adalah merasakan empati terhadap orang lain.”
Baca Juga: Kesehatan Mental Masyarakat Terancam di Tengah Gejolak Sosial
Paparan berita tentang perang atau konflik global memang bisa memicu stres, sehingga penting untuk mengelola cara kita mengonsumsinya. Salah satu langkah efektif adalah membatasi waktu membaca atau menonton berita. Hal itu efektif dilakukan agar tidak terus-menerus terpapar informasi yang menegangkan.
Pilih sumber berita yang tepercaya dan seimbang. Jadi, informasi yang diterima lebih akurat dan tidak menimbulkan kepanikan berlebihan.
Selain itu, mengalihkan perhatian ke aktivitas positif seperti olahraga ringan, membaca buku, atau berkumpul dengan keluarga dapat membantu menjaga keseimbangan emosi. Praktik sederhana seperti bernapas dalam-dalam, meditasi, atau journaling juga bisa meredakan ketegangan.
