ASIAWORLDVIEW – Koin Ripple (XRP) mengalami kenaikan lebih cepat dibandingkan Bitcoin dan Ethereum setelah crash harga awal bulan. Hal itu karena investor memanfaatkan momentum penurunan untuk melakukan pembelian. Strategi ini dikenal sebagai buy the dip, di mana investor masuk ke pasar saat harga turun tajam dengan harapan memperoleh keuntungan ketika harga kembali naik.
Pola pembelian ini mendorong XRP naik sekitar 35% sejak titik terendah pada 6 Februari. Angka ini jauh melampaui kenaikan Bitcoin dan Ethereum yang hanya sekitar 14% dalam periode yang sama, mengutip Coindesk, Rabu (18/2/2026).
Lonjakan permintaan dari investor ritel, termasuk di platform besar seperti Coinbase, serta berkurangnya cadangan XRP di bursa seperti Binance, memperkuat tren pemulihan harga. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pasar kripto sempat dilanda kepanikan, XRP berhasil menarik minat beli lebih besar dibandingkan aset kripto utama lainnya.
Baca Juga: Ekosistem XRPL dan Stablecoin Perkuat Posisi Ripple yang Makin Bersinar
Koin Ripple meningkat lebih cepat daripada Bitcoin dan Ethereum karena investor membeli saat harga turun setelah crash harga awal bulan ini. Harga XRP telah naik 35% menjadi USD1,55 sejak mencapai titik terendah pada 6 Februari.
Ini jauh lebih tinggi daripada Bitcoin dan Ethereum, yang naik 14% sejak 6 Februari. Kenaikan harga XRP sejalan dengan pola pembelian saat harga turun yang diamati setelah crash. Pernyataan terbaru dari CEO Coinbase menunjukkan bahwa pembelian oleh investor ritel telah melonjak di platformnya.
Data dari CryptoQuant juga menunjukkan bahwa cadangan XRP di Binance turun sebesar 192 juta XRP menjadi 2 miliar antara 7 dan 9 Februari. Penurunan 7% ini merupakan yang terendah sejak Januari 2024, dan cadangan tersebut tetap stabil sejak saat itu.
