Ini Alasan Dumpling Jadi Hidangan Wajib Saat Tahun Baru Imlek

Pangsit atau dumpling.

ASIAWORLDVIEW – Selain kue keranjang, pangsit atau dumpling menjadi makanan wajib yang tersedia saat Imlek. Makanan ini tidak hanya terkait dengan Tahun Baru, tetapi juga simbol budaya Tionghoa. Setiap hidangan memiliki latar belakang yang mendalam dalam budaya Tionghoa.

Pangsit rebus secara tradisional disajikan pada makan malam Tahun Baru Imlek. Pangsit ini diisi dengan daging dan dimakan untuk membawa kekayaan dan keberuntungan di tahun baru. Bentuknya mirip dengan yuanbao kuno (yuánbǎo), atau batangan emas, yang melambangkan kekayaan. Merebus dumpling dalam air melambangkan ide “merebus keluar” nasib buruk sambil mempertahankan keberuntungan.

Dalam bahasa Mandarin, dumpling disebut “jiaozi” (饺子), yang merupakan homofon dari “jiaozi,” merujuk pada peralihan antara tahun lama dan baru pada tengah malam. Oleh karena itu, mengonsumsi jiaozi menandai momen tepat pembaruan—aspek esensial dalam perayaan Tahun Baru Imlek.

Tradisi ini sangat mendalam dalam budaya China Utara, mencerminkan bentuk batangan perak kuno yang digunakan sebagai mata uang, sehingga pertanyaan mengapa orang membuat dumpling pada Tahun Baru Imlek terkait erat dengan tradisi kuliner dan simbolisme budaya.

Baca Juga: Tradisi Unik Perayaan Imlek di Nusantara: Harmoni Budaya dalam Keberagaman

Pangsit atau dumpling.(freepik)
Pangsit atau dumpling.(freepik)

Keluarga berkumpul untuk membungkus dumpling bersama pada malam Tahun Baru, memperkuat ikatan dan meneruskan resep yang telah diwariskan turun-temurun. Proses menyiapkan dan makan dumpling bukan hanya tentang makanan—ini adalah ritual yang melambangkan kelangsungan, keberuntungan, dan harapan bersama untuk masa depan.

Mengutip History, tradisi makan dumpling selama Tahun Baru Imlek dapat ditelusuri kembali lebih dari 1.800 tahun ke Dinasti Han Timur (25–220 M). Menurut legenda, seorang dokter terkenal bernama Zhang Zhongjing menciptakan jiaozi—dumpling—sebagai cara untuk membantu penduduk desa miskin yang menderita telinga beku akibat musim dingin yang keras. Ia mengisi potongan adonan kecil dengan daging domba, lada hitam, dan rempah-rempah penghangat, membentuknya menyerupai telinga. Seiring waktu, makanan obat ini berkembang menjadi hidangan perayaan, terutama populer di Tiongkok Utara.

Pada Dinasti Tang (618–907 M), dumpling menjadi hidangan pokok dalam festival musim dingin. Bentuknya yang melengkung menyerupai batangan emas dan perak (sycees) yang digunakan di Tiongkok kuno, sehingga orang mengasosiasikannya dengan kekayaan dan kemakmuran. Memakan dumpling pada tengah malam malam Tahun Baru Imlek diyakini akan membawa keberuntungan finansial di tahun yang akan datang. Keyakinan ini memperkuat peran mereka dalam perayaan tahunan, terutama di wilayah di mana gandum—bukan beras—merupakan biji-bijian utama.

Di beberapa wilayah di China orang bahkan memasukkan koin bersih ke dalam dumpling. Mereka percaya bahwa orang yang memakan koin tersebut akan menjadi lebih kaya.