ASIAWORLDVIEW – Bank Indonesia (BI) meyakini bahwa pertumbuhan kredit perbankan tahun ini masih akan berada dalam kisaran proyeksi 8 hingga 12 persen (yoy). Optimisme ini didukung oleh kondisi permodalan dan likuiditas perbankan yang dinilai memadai, sehingga mampu menopang ekspansi kredit tanpa menimbulkan risiko besar.
Hal itu diungkapkan Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis, mengatakan stabilitas sistem keuangan domestik masih terjaga.
“Pertumbuhan ekonomi kita masih di 5,11 persen. Dari sisi stabilitas sistem keuangan kita melihat rasio permodalan tinggi, AL/DPK masih terjaga tinggi, dan risiko kredit masih jauh di bawah batas indikator kita,” ujarnya, dikutip Asiaworldview, Sabtu (7/2/2026).
Baca Juga: Menko Airlangga Hartarto: Stimulus Transportasi Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Selain itu, tidak ada indikasi pelemahan fundamental dalam perekonomian nasional, yang berarti permintaan kredit dari sektor riil tetap terjaga. Dengan landasan tersebut, Bank Indonesia menilai perbankan memiliki ruang yang cukup untuk terus menyalurkan pembiayaan, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
Bank Indonesia akan terus menganalisis dampak penurunan outlook peringkat utang Indonesia tersebut terhadap kondisi likuiditas di pasar keuangan dan juga stabilitas perekonomian. Saat ini Bank Sentral masih menjaga arah kebijakan yang pro pertumbuhan (pro growth).
Sementara itu, BI menetapkan insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) dengan batas paling tinggi sebesar 5,5 persen. Dengan rincian, insentif bagi bank yang menurunkan suku bunga kredit lebih cepat (interest rate channel) sebesar 1,0 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK). Kemudian, insentif KLM untuk penyaluran kredit kepada sektor tertentu yang ditetapkan BI (lending channel) sebesar 4,5 persen dari DPK.
