ASIAWORLDVIEW – CEO Tether, Paolo Ardoino, menekankan bahwa meningkatnya adopsi stablecoin seperti USDT tidak bisa dilepaskan dari kisah panjang keruntuhan nilai mata uang di berbagai negara. Ia mencontohkan bagaimana bolivar Venezuela kehilangan hampir seluruh nilainya terhadap dolar AS dalam kurun waktu satu dekade, serta fenomena serupa yang terjadi di sejumlah negara dengan inflasi tinggi dan institusi keuangan yang lemah.
Kondisi tersebut membuat masyarakat mencari alternatif yang lebih stabil dan dapat diandalkan, sehingga stablecoin yang terikat pada dolar AS menjadi pilihan utama. Menurut Ardoino, USDT berfungsi sebagai lindung nilai bagi pengguna sehari-hari, memberikan akses terhadap mata uang yang relatif stabil, sekaligus membuka jalan bagi transaksi lintas batas tanpa bergantung pada sistem perbankan tradisional yang sering kali terbatas atau tidak dipercaya.
Ia menyoroti bahwa bolivar Venezuela telah kehilangan sekitar 99,8% nilainya terhadap dolar AS dalam rentang 10 tahun terakhir, sebuah gambaran tentang betapa parahnya hiperinflasi dan depresiasi mata uang lokal di negara itu — kondisi yang membuat warga mencari cara lain untuk menyimpan nilai dan melakukan transaksi karena kepercayaan terhadap mata uang nasional hampir hilang.
Baca Juga: Kecam CLARITY Act, Coinbase dan Komunitas Kripto Lawan Pembatasan DeFi
Mengutip Wall Street Journal, para peneliti yang mengamati fenomena ekonomi ini mencatat bahwa ketergantungan pada stablecoin seperti USDT tumbuh karena masyarakat semakin tidak percaya pada bank-bank domestik yang gagal menjaga stabilitas moneter dan tidak mampu melindungi simpanan mereka dari erosi nilai, dan karena kebijakan kontrol modal yang ketat membatasi kemampuan warga untuk mendapatkan dolar AS fisik melalui jalur resmi. Kendala akses terhadap dolar AS memperluas celah bagi aset digital yang dipatok ke dolar untuk mengisi kebutuhan tersebut.
Ardoino juga membandingkan pengalaman tersebut dengan upaya Venezuela pada 2018 memperkenalkan Petro, sebuah token yang diklaim didukung oleh cadangan minyak. Namun, Petro gagal menarik kepercayaan publik dan belum diterima secara luas di panggung internasional, sehingga tidak mampu menjadi solusi stabilitas ekonomi yang efektif untuk pengganti bolivar. Ketidakpercayaan terhadap klaim dukungan aset yang mendasari Petro dan ketiadaan pengakuan dari lembaga serta pasar global membuatnya gagal mengatasi masalah moneternya.
Menurut Ardoino, kombinasi depresiasi mata uang yang ekstrem, kurangnya kepercayaan terhadap lembaga perbankan domestik, pembatasan akses dolar, dan kegagalan inisiatif mata uang digital negara sendiri seperti Petro telah menciptakan kondisi di mana stablecoin USDT menjadi alternatif yang lebih menarik bagi warga untuk menyimpan nilai dan melakukan pembayaran di lingkungan ekonomi yang penuh tekanan.
